Bagikan artikel ini :

Pesta Terindah

Wahyu 19:6-10

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
- Wahyu 19:7

Saya membaca di Quora‒platform tanya jawab daring yang memungkinkan pengguna untuk mengajukan pertanyaan, membaca jawaban, dan berbagi pengetahuan tentang berbagai topik‒sebuah pertanyaan seperti ini: Apakah ada yang pernah berada di tahap tunangan/lamaran dengan pasangan, tetapi setelah tunangan kalian menjadi sangat ragu dan tidak ingin melanjutkannya? Ternyata beberapa penjawab pernah mengalaminya dengan cerita yang panjang lebar. Beberapa yang lain menjawab belum pernah, tetapi menyampaikan bahwa teman mereka pernah mengalami.

Mengapa kita membahas ini? Satu kepastian di masa depan yang Tuhan nyatakan adalah hari perkawinan Anak Domba (ay. 7-8). Budaya saat itu, memegang nilai pertunangan yang lebih dalam dari apa yang kita pahami saat ini. Pertunangan dianggap sebagai pernikahan, memutuskan pertunangan dianggap seperti bercerai. Sebagai gereja, bukan secara individual, kita telah dipertunangkan dengan Kristus (2Kor. 11:2-3). Perjamuan kawin Anak Domba itulah puncaknya. Pengkhotbah John Piper mengatakan, “Kristus datang pertama kali dua ribu tahun yang lalu untuk mati bagi mempelai perempuan-Nya, untuk membayar mas kawin, dengan darah-Nya sendiri. Dan Ia akan datang kedua kalinya untuk menikahinya dan membawa gereja-Nya, ke dalam kasih dan sukacita-Nya selamanya. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya, Dia pasti melaksanakan-Nya.”

Karena itu, setiap kali kita mengikuti perjamuan kudus, ingatlah bahwa kita adalah milik Kristus dan kelak kita dipersatukan dengan Kristus selama-lamanya. Jangan biarkan kita mencemarkan gereja dengan dosa, jangan berzinah dari Kristus, jagalah kekudusan hidup sebagai bagian dari gereja Tuhan. Jika kita menyadari bahwa kita adalah milik Kristus dan kita mengasihi-Nya, maka kita tidak akan mengkhianati-Nya.

Kita perlu berbicara lebih banyak dalam ucapan syukur tentang gereja Tuhan. Kita perlu menyiapkan diri sebagai gereja agar menjadi tempat orang saling mengasihi dan mendukung di tengah ketidaksempurnaan. Gereja haruslah tetap berdiri teguh di dalam kebenaran, bukan memolesnya biar orang senang. Bukan di dalam fenomena-fenomena menggiurkan yang palsu, yang hanya bicara soal kesenangan semu, di mana nanti semuanya akan berakhir.
Jagalah kemurnian gereja dengan segala daya dan upaya kita.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda sebagai bagian dari gereja, sudah benar-benar hidup dalam kekudusan?
  • Apa yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kemurnian gereja?