Persembahan Yang Diterima Tuhan
Yohanes 12:1-8
Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”
- Yohanes 12:7-8
Kita tentu tidak asing memberikan persembahan buat Tuhan, tetapi pernahkah kita memikirkan apakah persembahan tersebut diterima Tuhan atau tidak? Ingat, bukan soal jumlah besar yang diterima oleh Tuhan, tetapi bagaimana sikap hati kita. Waktu Tuhan Yesus menerima persembahan Maria, Dia tidak terpesona dengan mahalnya minyak yang diberikan. Jika melihat di Perjanjian Lama, orang Israel juga mempersembahkan persembahan yang terbaik kepada Tuhan, yaitu binatang yang gemuk-gemuk, tetapi Tuhan berkata, “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran... jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku.” (Yes. 1:10b, 13a). Tuhan tidak akan tertipu dengan persembahan yang besar dan baik tetapi datang bukan dari hati. Tuhan tidak akan berkekurangan, Dia tidak butuh sesuatu apa pun dari kita.
Sebaliknya, Tuhan menerima persembahan seorang janda yang mempersembahkan hanya dua peser, sangat kecil, tetapi diterima-Nya (Mrk. 12:41-44). Di hadapan Tuhan tidak seorang pun dapat menipu Tuhan dengan pemberiannya. Tidak ada yang bisa berdalih di hadapan-Nya. Dia mampu melihat yang tersembunyi di dalam hati kita. Hanya Tuhan yang tahu motivasi kita yang terdalam. Dia akan tahu dengan jelas kalau Maria memberi persembahan hanya untuk pamer dan cari muka. Tuhan akan segera mengecamnya. Namun, sewaktu Maria melakukan semuanya itu, Tuhan Yesus menerimanya karena Dia tahu persembahannya bukan persembahan dengan motivasi yang salah, tetapi merupakan ungkapan kasih tulus yang begitu besar.
Pemberian Maria adalah pemberian yang tidak mengharapkan kembali. Ia tidak sedang jualan dengan Tuhan, tidak memperhitungkan untung rugi. Pemberiannya adalah wujud kasihnya kepada Tuhan. Terkadang motivasi kita melakukan sesuatu untuk Tuhan bisa sangat salah. Sekalipun kita memberi waktu, tenaga, uang, tetapi hati kita tidak untuk Tuhan. Kita mungkin seringkali meminta pamrih dari apa yang kita lakukan. Kita perlu setiap hari memohon Tuhan memurnikan hati, supaya kita sadar memberikan hidup yang terbaik untuk Tuhan dengan motivasi yang murni. Hanya Tuhan yang tahu apa yang memotivasi kita melakukan yang terbaik untuk Tuhan.
Refleksi Diri:
- Bagaimana motivasi Anda selama ini dalam memberikan persembahan kepada Tuhan? Apakah datang dari hati yang tulus dan tanpa pamrih?
- Apa bentuk persembahan yang ingin Anda berikan sebagai persembahan terbaik kepada Tuhan?
