Bagikan artikel ini :

Percaya Diri Atau Sombong?

Galatia 5:13-15

Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
- Galatia 5:13b

Di dunia modern, percaya diri sering dianggap sebagai kunci kesuksesan. Kita didorong untuk yakin pada kemampuan diri sendiri demi meraih cita-cita, menembus batasan, dan menonjol di tengah persaingan. Namun, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk memiliki kepercayaan diri yang berbeda, yakni bukan berpusat pada diri sendiri, melainkan berakar pada identitas kita di dalam Kristus.

Perikop bacaan hari ini memberikan dasar kuat untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dengan kesombongan yang merusak. Rasul Paulus menuliskan bahwa kita telah dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan, tetapi bukan kemerdekaan yang digunakan untuk memuaskan keinginan daging, yakni kecenderungan hidup egois dan mencari keuntungan pribadi. Sebaliknya, Paulus menegaskan bahwa kemerdekaan dalam Kristus seharusnya digunakan untuk melayani satu sama lain oleh kasih. Inilah inti dari percaya diri yang sejati, yaitu keberanian untuk bertindak karena tahu siapa kita di hadapan Allah, sekaligus kerendahan hati untuk mempergunakan semua itu demi kebaikan orang lain, bukan diri sendiri.

Percaya diri sejati muncul dari pemahaman bahwa kita telah ditebus oleh kasih karunia, bukan oleh usaha atau pencapaian kita. Sebaliknya, kesombongan mulai tumbuh ketika kita menggunakan anugerah dan kebebasan itu sebagai alasan untuk meninggikan diri, membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa lebih rohani, lebih berhasil atau lebih penting. Ini sangat berbahaya, karena itu Paulus memperingatkannya di ayat 15, “Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.” Kesombongan dapat menghancurkan hubungan, komunitas, bahkan pelayanan yang baik.

Pastor John Stott pernah berkata, “Kesombongan adalah buah dari ketidaktahuan akan anugerah Tuhan.” Orang yang sungguh-sungguh mengenal anugerah Tuhan akan memahami bahwa semua yang dimilikinya adalah pemberian Tuhan, bukan hasil dari usahanya sendiri. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati dan membuat kita bebas dari dorongan untuk mencari pengakuan manusia.

Kepercayaan diri yang sehat dalam Kristus akan membawa kita semakin rendah hati karena kita tahu bahwa kekuatan, talenta, dan posisi kita adalah alat untuk melayani, bukan alat untuk membangun reputasi pribadi. Hendaklah kita meneladani Kristus, yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat. 20:28).


Refleksi Diri:

  • Apakah kepercayaan diri Anda bersumber dari identitas diri di dalam Kristus atau dari pencapaian dan pengakuan orang lain?
  • Dalam aspek hidup mana Anda sulit membedakan antara percaya diri dan kesombongan?