Bagikan artikel ini :

Peran Kita, Apakah Hanya Di Gereja?

1 Petrus 2:4-7

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
- 1 Petrus 2:5

Bagaimana kita bersikap dan membawa diri di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia yang sedang membangun masa depan, tetapi sarat permasalahan di berbagai sisi kehidupan? Ada sikap kesal karena kerap mendapatkan ketidakadilan. Ada sikap tidak peduli karena korupsi merajalela. Ada sikap ragu atau pesimis karena tidak ada yang manis terkait masa depan. Ada sinis cermin amarah terhadap sejarah yang telah menoreh luka. Ada banyak lagi sikap bernada sumbang karena 1.001 sebab musabab yang tentunya sangat tidak enak.

Mari merenung, adakah keadilan di tengah negeri ini? Apa maksud Tuhan menempatkan kita sebagai bagian dari bangsa ini? Memang lain ladang, lain belalang. Bukankah setiap tanah dimana kita menjejak memiliki masalahnya sendiri-sendiri?

Ayat emas menyebut kita seharusnya memiliki peran sebagai batu hidup, sebuah batu kasar nan buruk rupa, tetapi letaknya di tengah dan sangat kuat untuk menopang tembok atau sebuah gerbang. Dalam tradisi Yahudi kuno disebut even pinnāh artinya batu penjuru (cornerstone), sebuah kata yang bermakna luas, baik secara arsitektural maupun teologis (Mzm. 118:22).

Kalimat kunci di ayat emas yang bisa kita uraikan berbunyi kai autoi hos lithoi sontes artinya dan kamu sendiri seperti batu-batu hidup. Batu hidup merupakan metafora untuk orang percaya yang dibentuk Allah menjadi bagian dari bangunan rohani. Kalimat kunci lainnya Oikodomeisthe oikos pneumatikos artinya sedang dibangun menjadi rumah rohani. Ini menunjukkan proses Allah membangun gereja-Nya. Rumah rohani merupakan komunitas rohani, bukan bangunan fisik gereja. Gereja sebagai komunitas rohani dipanggil hadir di kancah dunia yang bergolak, itulah panggilan kita semua sebagai bagian dari tubuh gereja.

Sobat terkasih, Abraham Kuyper dalam pidatonya Sovereiniteit in Eigen Kring (Kedaulatan dalam Berbagai Lingkup Kehidupan) mengungkapkan peran kita sebagai orang beriman harus ada dalam berbagai lingkup kehidupan, seperti keluarga, gereja, pendidikan, ilmu pengetahuan, politik dan ekonomi. Meskipun kita berdampingan dengan berbagai kelompok yang berbeda, iman Kristen dipanggil memberi warna dalam setiap bidang kehidupan, bukan hanya di gereja saja. Jadi, bagaimana kita bisa berperan bagi kemajuan Indonesia?


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda sudah menjadi batu hidup yang kokoh menopang pergolakan di lingkungan (keluarga, kerja, tetangga, kuliah, dan sebagainya) sekitar Anda?
  • Apakah gereja Anda sudah memberi warna bagi kehidupan di sekelilingnya? Bagaimana Anda dapat ikut berperan