Bagikan artikel ini :

Pengharapan Yang Tidak Mengecewakan

Roma 5:1-5

dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
- Roma 5:4

Tidak ada orang yang suka mengalami penderitaan. Akan tetapi, Rasul Paulus menulis sesuatu yang mengejutkan: Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita... (ay. 3a). Bagaimana mungkin orang Kristen bisa bermegah dalam penderitaan? Jawabannya terletak pada pengharapan yang tidak pernah mengecewakan, yaitu pengharapan yang berakar dalam kasih Allah.

Paulus menunjukkan sebuah rantai rohani: kesengsaraan → ketekunan → tahan uji → pengharapan. Kata “ketekunan” (Yunani: hypomonē) berarti kesabaran yang teguh, bukan pasrah tanpa daya. Frasa “tahan uji” (Yunani: dokimē) berarti karakter yang terbukti murni setelah diuji. Dan puncaknya adalah pengharapan—keyakinan akan janji Allah yang tidak mengecewakan. Mengapa tidak mengecewakan? Karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus (ay. 5). Dengan kata lain, penderitaan tidak pernah sia-sia. Penderitan dipakai Allah untuk memperkuat iman dan meneguhkan pengharapan. Uskup Inggris J.C. Ryle menuliskan bahwa penderitaan adalah “sekolah Allah”, dimana Dia melatih umat-Nya untuk melihat kekuatan-Nya, bukan kelemahan diri. Di dalam kesulitan, iman sejati justru dibuktikan karena pengharapan tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada janji Allah.

Biji kopi yang direbus dalam air panas tidak akan hancur, melainkan justru mengeluarkan aroma harum yang terbaik. Demikian pula, orang percaya yang sedang mengalami kesulitan, ia bukannya hancur, tetapi mengalami proses pendewasaan rohani sehingga iman, karakter, dan pengharapannya semakin kuat dan nyata.

Saat menghadapi penderitaan, kita bisa memilih: menjadi pahit atau menjadi pribadi yang semakin diubahkan. Paulus telah mengingatkan, kesulitan tidak menghancurkan iman, tetapi mengokohkannya karena kasih Allah menopang kita. Inilah pengharapan yang tidak pernah mengecewakan, yakni janji Allah yang setia, penghiburan Roh Kudus, dan kasih Kristus yang tidak berubah. Hendaklah kita berdoa agar Tuhan mengajar kita melihat penderitaan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai jalan menuju pengharapan yang teguh di dalam Dia. Melalui penderitaan kita beroleh kekuatan oleh kasih-Nya sehingga tetap mampu bertahan di tengah tantangan dan kesulitan hidup.


Refleksi Diri:

  • Apa pengalaman penderitaan dalam hidup Anda yang justru membentuk ketekunan dan karakter yang lebih kuat?
  • Bagaimana Anda bisa memandang situasi sulit yang Anda hadapi sebagai kesempatan untuk berpegang pada pengharapan dalam Kristus?