Bagikan artikel ini :

Pengharapan Di Tengah Kehilangan

Ayub 1:13-19; 2:3-10

Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapan-Nya.
- Ayub 13:15

Apakah masih ada harapan? Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul ketika kita mengalami suatu kehilangan. Mungkin kehilangan orang yang dikasihi, kehilangan impian yang hancur atau kehilangan kesehatan karena penyakit berat atau kecelakaan. Di saat-saat seperti itu, kata “harapan” terasa seperti kemewahan yang tidak bisa kita beli.

Ayub memahami pergumulan yang sangat dalam. Dalam satu hari, ia kehilangan semua hartanya, anak-anaknya meninggal, dan tubuhnya diserang penyakit yang menyiksa. Temantemannya yang datang untuk menghibur justru menyalahkan dan menghakiminya (Ayb. 16:1, 20). Istri Ayub bahkan menyuruhnya untuk “mengutuk Allah dan mati saja” (Ayb. 2:9).

Namun, di tengah penderitaan yang luar biasa, Ayub membuat pernyataan yang mengejutkan di ayat emas, “Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela perilaku di hadapan-Nya.” Ayub tidak menyangkal realitas penderitaannya atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ia mengakui situasinya begitu buruk sehingga merasa tidak ada harapan lagi. Meski demikian, Ayub memilih untuk tetap mempertahankan integritas dan hubungannya dengan Tuhan.

Pengharapan dalam kehilangan, berbeda dengan pengharapan dalam kesulitan biasa. Ketika kita kekurangan, kita berharap untuk dicukupkan. Ketika kita lapar, kita berharap ada yang mengenyangkan. Namun, ketika kehilangan terjadi‒orang yang dikasihi meninggal, pernikahan yang tercerai berai, karier yang hancur, kekayaan yang habis karena ditipu‒apa yang bisa kita harapkan?

Pengharapan Ayub tidak tertuju pada pemulihan keadaan seperti semula, tetapi pada karakter Tuhan yang tidak berubah. Ayub tahu bahwa meskipun dirinya tidak memahami mengapa hal ini terjadi, Tuhan tetap adil dan baik. Pengharapan seperti ini membutuhkan kesadaran kita untuk memilih percaya, meskipun perasaan memberontak. Seperti Ayub yang berkata, “Meskipun Dia membunuh aku,” kita belajar bahwa pengharapan kita bukan melihat pada keadaan, tetapi pada kepercayaan tentang karakter Tuhan yang kekal.

Kehilangan yang mendalam seringkali mengajarkan kita tentang Sang Sumber Pengharapan yang sesungguhnya, yakni Tuhan Yesus. Ketika semua yang kita andalkan di dunia runtuh, kita baru menyadari bahwa hanya Yesus yang benar-benar tidak akan pernah berubah atau meninggalkan kita. Pengharapan yang dimurnikan oleh penderitaan akibat kehilangan akan menjadikan kita lebih kuat.


Refleksi Diri:

  • Apa pengalaman kehilangan yang melaluinya Anda belajar tetap berharap pada karakter Tuhan yang tidak berubah?
  • Bagaimana Anda dapat memelihara pengharapan ketika keadaan tidak memberikan alasan untuk berharap?