Pengharapan Di Tengah Kegelapan
Ratapan 3:1-23
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
- Ratapan 3:21-23
Tak berkesudahan kasih setia Tuhan”. Kalimat ini jika dibacakan dalam sebuah pesta pernikahan atau kebaktian syukur, terdengar indah dan pas. Namun, coba bayangkan kalimat yang sama diucapkan di tengah puing-puing kota yang hangus terbakar, di antara tangisan para janda dan yatim piatu, dan oleh seorang tawanan yang diborgol.
Itulah yang sesungguhnya terjadi di Ratapan 3:21-23. Kalimat ini sesungguhnya adalah sebuah teriakan iman yang melawan realitas. Iman yang tidak menyangkal adanya kegelapan, tetapi berani mendeklarasikan bahwa ada cahaya yang lebih besar dari segala kegelapan tersebut. Renungan ini mengajak kita menyelami kekuatan dari sebuah pengharapan yang justru paling otentik ketika diucapkan dari dalam lubang yang paling dalam dan gelap.
Perikop bacaan hari ini menggambarkan penderitaan dengan kata-kata yang sangat getir, seperti: Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya; tulang tulangku dipatahkan-Nya; Ia mengikatku dengan rantai yang berat; dan lain sebagainya. Akan tetapi, di tengah kegelapan yang pekat, tiba-tiba muncul titik balik di ayat 21, “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap.” Penulis Ratapan membuat keputusan secara sadar untuk mengingat kasih setia Tuhan. Kata “kasih setia” menggambarkan kasih yang berkomitmen, loyal, dan tidak akan pernah berhenti.
Yang menakjubkan dari ayat ini adalah penggunaan kata “tidak berkesudahan” dan “tidak habis-habisnya”. Ini bukan sekadar pernyataan teologis, tetapi pengakuan iman di tengah penderitaan nyata. Ketika segala sesuatu di sekitar kita tampak berakhir, kasih setia Tuhan tidak pernah berakhir. Ketika sumber daya kita habis, rahmat-Nya tidak akan habis.
Frasa “selalu baru tiap pagi” memberikan dimensi waktu yang sangat praktis. Kita tidak diminta untuk memiliki pengharapan untuk sepuluh tahun ke depan dalam satu waktu. Kita hanya perlu memiliki cukup pengharapan untuk hari ini, karena besok pagi rahmat Tuhan yang baru akan diberikan lagi.
Pengharapan dalam kitab Ratapan bukanlah sebuah penyangkalan tentang penderitaan hidup. Tetaplah mengingat kasih setia Tuhan, seperti penulis Ratapan yang tidak mengingkari penderitaan di tengah kegelapan. Sebuah pernyatan iman bahwa di tengah kegelapan, kita tetap akan melihat terang.
Refleksi Diri:
- Apakah selama ini Anda lebih fokus pada masalah atau pada kasih setia Tuhan, saat menghadapi penderitaan?
- Bagaimana Anda dapat membangun kebiasaan mengingat kebaikan Tuhan setiap pagi sebagai fondasi pengharapan untuk hari ini?
