Bagikan artikel ini :

Pengemis Belagu

2 Raja-raja 20:12-19, 1 Tawarikh 32:24-31

Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Ia pun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.
- Amsal 3:34

Sayang sekali sesudah Hizkia disembuhkan, bukannya menjadi pribadi yang penuh iman dan penyerahan diri, ia malah menjadi sombong. Ketika utusan Babel datang, Hizkia memamerkan seluruh kekayaannya. Mungkin kita yang hidup di masa modern berpikir, apa salahnya mempertontonkan kemajuan negara kita kepada duta asing? Namun, kita harus mengerti konteksnya. Hizkia memamerkan kekayaannya merupakan sebuah manuver politik untuk memancing bangsa Babel beraliansi dengannya melawan Asyur. Dengan kata lain, ia sebenarnya sedang memohon agar Babel mau bersekutu dengannya, tetapi dengan cara yang belagu. Itulah sebabnya Tuhan menghukumnya.

Mungkin Anda pernah bertemu dengan orang seperti ini. Niatnya mengemis atau berutang, tetapi ia melakukannya dengan memamerkan segala kemewahannya yang sebenarnya diperoleh dengan pinjaman. Itulah Hizkia, mengemis bantuan kepada Babel dengan pinjaman umur lima belas tahun yang Tuhan karuniakan kepadanya. Jika Anda pernah meminjamkan uang atau menolong orang seperti ini, tidakkah Anda kesal? Sangat wajar sekali bila Tuhan marah melihat tindakan Hizkia.

Syukurlah Hizkia bertobat. Sesudah Yesaya memberitakan hukuman Tuhan atasnya (ay. 16-18), Hizkia dalam terjemahan LAI sepertinya menjawab dengan gaya sarkastik dan menantang (ay. 19). Dalam bahasa aslinya untuk ayat 19, Hizkia sebenarnya menerima hukuman itu dengan menyadari kesalahannya, seolah ia berkata, “Memang hukuman Tuhan setimpal dengan kesalahanku,” dan ia di dalam hati bersyukur karena setidaknya Tuhan beranugerah sehingga malapetaka itu tidak terjadi dalam hidupnya. Itulah sebabnya 2 Tawarikh 32:26 mencatat bahwa Hizkia “sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersamasama dengan penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia.” 

Tak hanya Hizkia, kita pun sering menjadi sombong sesudah menerima rezeki nomplok atau berkat-berkat yang lain. Usaha sukses atau menang tender? Langsung bertingkah seolah kita orang kaya. Baru terpilih menjadi diaken atau penatua? Langsung merasa seolah kita yang punya gereja. Padahal semua ini adalah pemberian Tuhan semata. Kita ini hanyalah pengemis di hadapan Tuhan, tetapi suka sekali belagu. Ketika Tuhan memberikan kita banyak berkat, Dia pun sebenarnya sedang menguji kita. Apakah kita memilih untuk tetap rendah hati ataukah menjadi sombong?


Refleksi Diri:

  • Bagaimana sifat dan perasaan Anda biasanya ketika baru mendapatkan berkat yang besar (misalnya: usaha sukses, dipromosikan, terpilih menduduki jabatan tertentu, dll.)? Apakah Anda menjadi sombong?
  • Mengapa perlu tetap memilih kerendahan hati dalam keadaan seperti ini?