Bagikan artikel ini :

Pengalaman Hidup Bersama Tuhan

2 Raja-raja 19:1-19

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
- Yesaya 46:4

Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi bagi Hizkia. Sanherib mendengar kabar bahwa Tirhaka, raja Etiopia, hendak melawannya (ay. 9). Hal ini menyebabkan Sanherib ingin menyelesaikan penyerangannya terhadap Yehuda dan menumpasnya dengan segera supaya dapat menghadapi pasukan Etiopia. Itulah sebabnya sekali lagi ia mengirim surat ancaman kepada Hizkia agar Yehuda Selatan menyerah.

Keadaan ini membuat mereka makin kalut. Para pejabatnya hanya dapat berkabung dan datang kepada Yesaya (ay. 1-5). Hanya Yesaya-lah yang masih membawa kabar kemenangan (ay. 6-7). Apakah keadaan ini mengingatkan kita akan sesuatu? Ya! Hizkia pernah mengalami keadaan serupa, yakni ketika mengalami sakit parah dan tidak memiliki apa-apa yang dapat diandalkannya. Namun, di tengah keadaan tanpa harapan ini, Tuhan tak hanya menyembuhkannya, tetapi juga membuat bayang-bayang pada jam matahari Hizkia bergerak mundur (2Raj. 20:1-11), sesuatu yang mustahil dilakukan manusia dan hanya dapat dilakukan Tuhan saja.

Kali ini pun sama. Hizkia tidak memiliki pasukan yang besar atau juru bicara handal yang dapat bernegosiasi dengan Sanherib. Dalam keadaan tanpa harapan ini, ia tahu satu-satunya yang ia miliki hanya Tuhan. Bagaimana ia dapat menunjukkan iman yang begitu luar biasa (ay. 14-19)? Jawabannya adalah karena ia ingat akan perbuatan ajaib Tuhan di masa lalu. Jika menyembuhkan sakit kerasnya dan membuat waktu bergerak mundur tidak mustahil bagi Tuhan, tentunya mengalahkan pasukan Asyur tidaklah terlalu sukar untuk Tuhan!

Pada saat saya masih mahasiswa praktik, seorang hamba Tuhan pernah berpesan kepada saya, “Kebanggaan orang muda adalah pencapaiannya. Kebanggaan orang tua adalah kesukarannya karena ia berhasil melewati semua itu bersama Tuhan.” Seorang yang masih muda dan sedikit pengalaman dengan Tuhan mudah untuk mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang datang. Namun, semakin bertambah tua seseorang, semakin ia menyadari bahwa bukan kekuatannya, melainkan hanya Tuhan yang menuntunnya melalui segala kesukaran hidup.

Pada akhirnya, yang membuat Hizkia tetap beriman adalah pengalamannya dengan Tuhan. Bagaimana dengan kita? Masihkah kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan dalam hidup kita?


Refleksi Diri:

  • Berapa usia Anda sekarang dan berapa usia Anda ketika pertama kali menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Apakah Anda memiliki pengalaman bersama Tuhan yang membekas sampai sekarang?
  • Bagaimana pengalaman di masa lalu itu memberi Anda kekuatan menghadapi masalah di masa sekarang?