Bagikan artikel ini :

Pemimpin Yang Takut Akan Tuhan

2 Tawarikh 23

Itulah yang harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya,
- Ulangan 17:19

 

Pasal 2 Tawarikh 23 seringkali dipakai untuk mendukung pandangan bahwa Tuhan tidak menghendaki wanita sebagai pemimpin negara atau pemimpin politik. Dalam sejarah dunia barat, kisah kudeta yang dilakukan orang-orang Lewi terhadap Atalya acapkali dipakai oleh para kaum rohaniawan sebagai propaganda memberontak seorang pemimpin negara wanita. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I (1533-1603). Faktanya, Elizabeth I justru menjadi seorang ratu yang sepanjang pemerintahannya selama empat puluh tahun dapat menjaga stabilitas dan kedamaian, bahkan ketika negara-negara Eropa di masa itu banyak dilanda peperangan pasca Reformasi Protestan. Sebaliknya, tidak sedikit raja-raja Inggris yang sangat bobrok pemerintahannya, misalnya Henry XIII yang adalah ayah dari Elizabeth I sendiri.

 

Jadi, mengintepretasikan kisah Atalya sebagai perintah Tuhan untuk menyerang bahkan memberontak setiap pemimpin negara hanya karena terlahir sebagai perempuan adalah interpretasi yang keliru. Kenapa? Pertama, sepanjang Kitab Raja-raja dan Kitab Tawarikh, Atalya tidak pernah dipersalahkan karena ia seorang perempuan. Tak hanya itu, ia tidak dipersalahkan karena ibunya adalah Izebel, melainkan karena ia membawa budaya ayahnya, Ahab. Berkali-kali dikatakan bahwa ia membuat Yoram, suaminya, dan Ahazia, anaknya, “hidup menurut kelakukan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab” (2Taw. 21:6; 22:3).

 

Kedua, fakta bahwa Atalya dikudeta oleh orang-orang Lewi yang adalah kaum rohaniawan dan bukan orang-orang dari kalangan bangsawan atau kaum militer menunjukkan bahwa persoalannya sama sekali bukan politik, melainkan spiritual. Dengan kata lain, kesalahan Atalya bukanlah karena ia dilahirkan sebagai perempuan, sesuatu yang jelas di luar kontrolnya, melainkan karena ia tidak takut akan Tuhan.

 

Baik laki-laki maupun perempuan dapat Tuhan pakai untuk memimpin sebuah negara atau organisasi. Debora, Priskila, bahkan Yosabat (2Taw. 22:11) memegang peranan besar sebagai pemimpin. Yang terpenting adalah apakah pemimpin tersebut takut akan Tuhan. Itulah sebabnya sebuah hukum yang sangat penting bagi para raja Israel adalah menulis salinan Taurat dan membacanya, supaya mereka memiliki rasa takut akan Tuhan (Ul. 17:18-19).

 

Hai para pemimpin, apakah Anda memiliki takut akan Tuhan?


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda memegang jabatan kepemimpinan saat ini? Mengapa takut akan Tuhan adalah syarat yang sangat penting bagi para pemimpin?
  • Bagaimana rasa takut akan Tuhan memengaruhi kepemimpinan Anda baik di dalam masyarakat, gereja atau organisasi lainnya?