Pelayanan Yang Bebas Dari Iri Hati
Bilangan 12:1-15
Lalu berfirmanlah Tuhan dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga.
- Bilangan 12:4
Pelayanan rohani seharusnya menjadi area yang bebas dari iri hati karena semua orang melayani Tuhan yang sama dengan tujuan yang sama. Namun kenyataannya, iri hati dalam pelayanan seringkali lebih intens dan menyakitkan dibandingkan area kehidupan lainnya karena ia terselubung dalam motivasi yang kelihatannya baik dan rohani.
Kisah Miryam dan Harun yang iri terhadap kepemimpinan Musa memberikan pelajaran berharga tentang bahaya iri hati dalam pelayanan. Miryam adalah seorang nabiah (Kel. 15:20) yang dihormati dan Harun adalah imam besar (Kel. 28:1). Keduanya memiliki peran penting dalam kepemimpinan Israel, tetapi mereka mulai mempertanyakan otoritas Musa. Mereka menggunakan isu pernikahan Musa dengan perempuan Kush sebagai dalih untuk mengkritik kepemimpinannya. Ayat 2 mengungkapkan motivasi mereka yang sebenarnya, “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Mereka iri karena merasa Musa mendapat porsi yang lebih besar dalam berkomunikasi dengan Tuhan.
Respons Tuhan terhadap iri hati Miryam dan Harun sangat tegas. Dia tidak hanya membela Musa, tetapi juga menjelaskan perannya sebagai wakil Tuhan, “Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia (Musa), terus terang, bukan dengan teka-teki, ..” dan juga alasan Dia memberikan peran khusus tersebut, yaitu karena karakter Musa yang setia (ay. 7-8).
Konsekuensi dari iri hati Miryam sangat serius, ia diserang kusta. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sangat serius dengan iri hati dalam pelayanan karena tidak hanya merusak hubungan sesama manusia, tetapi juga dapat merusak kesatuan umat Tuhan. Iri hati dalam pelayanan seringkali berakar pada ketidakpahaman tentang konsep tubuh Kristus. Kita lupa bahwa setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda, tetapi sama pentingnya. Mata tidak boleh iri kepada tangan, dan kaki tidak boleh iri kepada kepala. Ketika setiap orang berfungsi sesuai dengan karunianya masing-masing, seluruh tubuh akan sehat dan bertumbuh.
Ingatlah, yang terpenting bukanlah seberapa besar peran kita dalam pelayanan, melainkan seberapa setia kita dalam peran yang Tuhan berikan. Seperti Musa yang dipercaya dengan peran yang besar bukan karena ia menginginkannya, tetapi karena ia menunjukkan kesetiaan dalam hal-hal kecil terlebih dahulu.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda sering membandingkan pelayanan Anda dengan orang lain dan merasa kurang dihargai?
- Bagaimana Anda dapat fokus pada kesetiaan dalam peran yang Tuhan berikan, tanpa iri terhadap peran orang lain?
