Bagikan artikel ini :

Orang Muda Mencari Kehendak Tuhan (2)

2 Tawarikh 34:8-28

Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
- Yesaya 55:6-7

Jika ada satu frasa yang tepat menggambarkan kehidupan Yosia, frasa itu adalah “mencari kehendak Tuhan”. Sejak masa kecil, Yosia mencari kehendak Tuhan. Kini ia telah memasuki tahun kedelapan belas dari pemerintahannya. Di usia 26 tahun, ia memerintahkan para pejabatnya untuk memperbaiki Bait Allah (ay. 8). Siapa sangka rupanya mereka menemukan Taurat TUHAN (ay. 14-16). Beberapa tradisi Yahudi mengklaim bahwa gulungan yang ditemukan berisi teks dari Kitab Ulangan pasal 5-26 serta 28, dan gulungan Taurat ini ditemukan di bawah timbunan batu.

Sesudah menemukannya, Yosia mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda dukacita, penyesalan, dan pertobatan (ay. 19). Ia menyadari betapa raja-raja sebelumnya telah melanggar hukum Tuhan dan kini generasinya-lah yang akan menerima imbas dari murka Tuhan (ay. 21). Yosia mengutus beberapa orang utusannya kepada Nabiah Hulda untuk menanyakan apa yang harus dilakukannya. Puji Tuhan, rupanya Allah berkenan kepada Yosia yang telah mencari-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya sehingga malapetaka itu tidak akan terjadi di generasinya (ay. 26-28).

Sadar tidak sadar, kegentingan yang dialami Yosia sangat relevan dengan kegentingan yang dialami kita para generasi Milenial dan Generasi Z. Kita melihat, terlepas dari segala kemajuan teknologi dan pengetahuan, umat manusia secara global sedang mengalami kehancuran moral. Mulai dari isu-isu LGBT dan berbagai penyimpangan seksual di sayap kiri, sampai radikalisme ideologi di sayap kanan. Semua ini adalah tanda bahwa ada sebagian dari leluhur kita telah menyimpang dari jalan kebenaran. Belum lagi paham-paham materialisme yang menyebabkan manusia makin serakah sehingga yang miskin jadi makin miskin, dan yang kaya jadi makin kaya. Individualisme membuat manusia makin egois. Sepertinya tidak ada harapan selain menunggu kehancuran.

Siapa bilang tidak ada harapan? Kita memang bukan raja seperti Yosia, tetapi kisah ini memberi teladan kepada kita bahwa inilah saatnya berdoa dan mencari Tuhan. Tidak pernah ada kata terlambat. Kiranya Tuhan memakai kita semua untuk memberikan pengaruh positif dan membawa perubahan kepada masyarakat di sekeliling kita.


Refleksi Diri:

  • Bagaimana Anda menilai masyarakat di zaman sekarang? Menurut Anda, apakah terjadi penurunan moralitas maupun dalam aspek-aspek kehidupan lainnya?
  • Apa Anda pernah berdoa syafaat bagi masyarakat secara global? Apa panggilan Tuhan bagi Anda untuk membawa pengaruh positif bagi lingkungan dimana Anda hidup?