Orang Kristen Yang Suka Tantrum
2 Tawarikh 28:22-25
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
- 1 Korintus 13:11
Kita telah membaca di renungan sebelumnya, bagaimana Asyur memaksakan upeti yang berat kepada Yehuda Selatan, padahal mereka tidak memberikan pertolongan apa pun. Begitu beratnya tanggungan tersebut, sampai-sampai Ahas harus membayarnya dengan barang-barang emas dan perak dari bait Allah (2Taw. 28:21), sesuatu yang telah dikuduskan menjadi milik Tuhan.
Apakah Ahas berbalik kepada Tuhan? Tidak! Justru dosanya makin menjadi-jadi. Ia menyembah dewa-dewa lain yang dianggapnya lebih perkasa daripada Allah Israel (ay. 23), bahkan dengan sengaja merusak Bait Allah dan menghalang-halangi rakyat yang beribadah kepada-Nya (ay. 24). Penulis Alkitab mencatat bahwa ia dengan sengaja melakukan hal ini untuk “menyakiti hati TUHAN, Allah nenek moyangnya” (ay. 25).
Di satu sisi, apa yang dilakukan Ahas memang sangat jahat. Namun di sisi lain, tindakannya sangat kekanak-kanakan. Apa yang dilakukannya hanya akan melukai dirinya sendiri lebih lagi. Ia bagaikan bocah yang marah karena tidak dibelikan mainan oleh orangtuanya, kemudian tantrum hebat dengan cara melemparkan mainan-mainannya ke lantai sehingga rusak semua. Dikiranya ia sedang melukai orangtuanya. Ini tidak salah, tetapi ia juga merugikan dirinya sendiri. Itulah gambaran yang tepat bagi Ahas yang ingin menyakiti hati Tuhan, tetapi dengan merusak Bait Allah. Tuhan tidak kekurangan emas dan perak sehingga Ia harus mengemisngemis supaya Ahas tidak menghancurkan barang-barang tersebut.
Ini jugalah tingkah orang-orang Kristen yang masih bocah, yang kerjaannya tantrum kepada Tuhan ketika tidak mendapat apa yang diinginkannya. Pelayanan tidak berjalan sesuai keinginannya? “Ya sudah, aku mogok pelayanan.” Berselisih dengan jemaat lain atau bahkan hamba Tuhan? “Ya sudah, aku mogok ke gereja.” Tuhan tidak melancarkan bisnisnya? “Ya sudah, aku mogok persembahan.” Ini mobil bekas atau orang Kristen? Kok lebih banyak mogok daripada taat? Memangnya Tuhan sebegitu kekurangannya sehingga harus mengemis kepada orang-orang Kristen yang suka tantrum seperti ini?
Ayolah. sudah berapa tahun kita menjadi orang Kristen? Masakan kerohanian kita belum dewasa? Tuhan Yesus telah mati dan memberikan kita anugerah keselamatan tanpa syarat, apakah pantas kalau kita bersikap seperti bayi yang tantrum kalau tidak mendapat yang kita inginkan?
Refleksi Diri:
- Berapa nilai kedewasaan rohani Anda jika dinilai dengan skala 1-10?
- Apakah Anda pernah atau sering melakukan mogok (pelayanan, ke gereja, memberi persembahan, dll.) karena apa yang Anda inginkan tidak Tuhan berikan? Bagaimana orang Kristen dewasa seharusnya meresponi ini?
