Old Habit Die Hard
2 Tawarikh 20:35-21:1
Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
- Roma 7:24
Sebuah idiom berbahasa Inggris berbunyi: old habit die hard, secara literal berarti kebiasan lama susah mati. Betapa sulitnya mengubah sebuah pola perilaku atau cara pikir yang sudah tertanam dalam otak kita. Orang yang rasis susah untuk keluar dari pemikiran-pemikiran tersebut. Orang yang selalu merasa benar tidak akan mudah untuk belajar rendah hati dan menerima masukan orang lain. Bocah yang terbiasa dimanja dan dilayani seperti raja kecil di rumahnya akan sulit beradaptasi dengan desa-desa terpencil tempat ia melakukan KKN.
Ini juga terjadi pada Yosafat. Ia telah biasa hidup beraliansi dengan kerajaan lain, yakni Israel Utara. Lihat saja bagaimana ia sampai menjadikan Ahab besannya. Meski Alkitab tidak menceritakan secara detail, beberapa ahli menghitung bahwa aliansi yang berjalan antara Yosafat dan Ahab berlangsung selama delapan belas tahun. Ini bukanlah suatu periode yang singkat. Ditambah lagi, satu-satunya alasan aliansi ini berakhir adalah kematian Ahab di dalam perang melawan Aram (2Taw. 18), bukan karena kesadaran pribadi Yosafat.
Tak heran di akhir biografinya, sekali lagi dicatat bagaimana ia beraliansi, lagi-lagi dengan Israel Utara “yang fasik perbuatannya” (ay. 35). Bahkan sesudah melihat sendiri perbuatan Tuhan yang menyelamatkannya dari Amon dan Moab (2Taw. 20:1-28), Yosafat masih tetap kembali ke kebiasaan yang lama. Akhirnya, Nabi Eliezer menegur Yosafat dan menubuatkan bahwa Tuhan sendiri yang akan menggagalkan segala pencapaiannya (ay. 37). Segera sesudah itu, dicatat bagaimana kapal-kapalnya pecah. Di kisah-kisah selanjutnya, kita akan melihat bahwa nubuatan ini tidak hanya sampai di sini, tetapi juga mencakup segala pencapaian yang diperoleh Yosafat.
Kita semua memiliki kebiasaan yang tidak berguna, bodoh, bahkan berdosa. Susah sekali keluar dari kebiasaan tersebut. Bahkan ketika nalar kita mengatakan untuk berhenti melakukannya, tubuh kita secara otomatis akan melakukan hal tersebut dan membuat kita tidak bisa lepas. Tanyakan saja kepada mereka yang kecanduan rokok, pornografi, doomscrolling, terbiasa berkata-kata kasar bahkan mengumpat, dan lain sebagainya. Itulah alasannya Paulus mengatakan dirinya “manusia celaka”.
Memang sulit keluar dari kebiasaan buruk. Namun, jangan menyerah! Ingatlah selalu pengorbanan Tuhan Yesus yang menjamin kemenangan kita atas segala dosa yang menjerat kita.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda memiliki kebiasan yang sia-sia, bodoh, bahkan berdosa? Apakah itu dan sejak kapan Anda melakukannya? Mengapa Anda melakukan hal tersebut?
- Apa langkah konkret yang dapat Anda lakukan untuk keluar dari kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut?
