Nyatanya Cuma PHP
2 Tawarikh 24:20-27
Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.
- Mazmur 62:6
PHP adalah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu, sebuah akronim yang sangat tepat menggambarkan Yoas. Ia memulai kariernya sebagai raja dengan sangat baik. Namun, begitu Yoyada mati, ia berbalik dari Tuhan dan membawa kerajaannya pada penyembahan berhala. Puncak kejatuhannya adalah ketika anak dari Yoyada, Zakharia, yang berarti adalah saudara angkatnya, datang menegurnya. Bukannya mendengarkan, Yoas malah membunuhnya (ay. 22)!
Akibatnya, seperti doa Zakharia, Tuhan menuntut balas pembunuhan tersebut. Tuhan mendatangkan tentara Aram yang mengalahkan mereka, padahal jumlah pasukannya kecil (ay. 24). Entah berapa banyak Alkitab mencatat kisah umat Tuhan yang berjumlah kecil dapat mengalahkan pasukan yang lebih besar. Bagian ini malah menceritakan kebalikannya. Umat Tuhan yang jumlahnya besar malah kalah melawan pasukan yang lebih kecil. Ini bisa terjadi karena rajanya telah membunuh nabi-Nya. Tidak sampai di sana, tentara Aram “meninggalkan [Yoas] dengan luka-luka berat” (ay. 25). Beberapa versi bahasa Inggris (KJV, NASB, ASV) menerjemahkannya sebagai “dengan penyakit yang berat.” Apa pun kondisi yang menimpa Yoas, keadaannya memungkinkan para pegawai Yoas untuk membunuhnya. Ditambah lagi, jenazahnya tidak dimakamkan di pekuburan raja-raja, menunjukkan bahwa ia mati dalam kehinaan. Kekalahan dalam peperangan, luka atau penyakit yang berat, pengkhianatan dari bawahan, serta kematian dalam penghinaan, semua ini menunjukkan kerasnya penghakiman Tuhan atas Yoas, raja yang telah diharap-harapkan. Bayangkan betapa kecewanya orang-orang Lewi yang berjuang mengkudeta Atalya untuk mendudukkan Yoas di takhta kerajaan. Betapa kecewanya Yoyada yang sudah membesarkannya. Betapa kecewanya rakyat yang telah menantikan ibadah kepada Allah sejati. Namun, Yoas ternyata cuma PHP.
Kita mungkin pernah mengalami kekecewaan yang sama. Kita membebankan harapan yang tinggi kepada pemimpin negara yang baru, bos yang baru, bahkan gembala yang baru. Akan tetapi ingatlah, mereka semua adalah manusia. Cepat atau lambat mereka akan mengecewakan kita.
Bukan berarti kita harus menjadi orang pesimis. Poinnya adalah jangan kita membebankan harapan berlebihan kepada para pemimpin kita karena pada akhirnya satu-satunya harapan sejati kita hanyalah Tuhan Yesus. Dengan pola pikir demikian, kita justru dapat lebih mudah menghargai kebaikan para pemimpin, sekaligus memaafkan kelemahan mereka.
Refleksi Diri:
- Apakah ada figur pemimpin tertentu yang Anda idolakan dan harapkan? Apa yang membuat Anda berpikir demikian?
- Apakah figur tersebut pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang membuat Anda kecewa, baik secara personal atau tidak? Bagaimana seharusnya Anda menanggapi kekecewaan tersebut?
