Bagikan artikel ini :

Nama Besar Dan Makna Hidup

Pengkhotbah 2:1-11

Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah (bayith), menanami bagiku kebun-kebun anggur.
- Pengkhotbah 2:4

Banyak orang menganggap pengakuan akan keberhasilan dalam hidup adalah hal yang penting. Namun, Kitab Pengkhotbah mengajak kita belajar bahwa segala bentuk puja-puji dari berbagai negeri tidak pernah membawa makna hidup sejati, jika tinggal di luar takut akan Tuhan.

Pada masanya, juga masa kini, membangun rumah adalah simbol keberhasilan dan popularitas. Raja Salomo telah mendapatkan segala kemegahan gebyar-gebyar pencapaian hidup sehingga mendapatkan popularitas yang sangat tinggi, tetapi mengapa semua itu ia sebut sebagai kesia-siaan (ay. 11)?

Kata bayith di ayat emas, yang berarti rumah-rumah atau bangunan (the houses) menjelaskan bahwa pada saat pemerintahan Salomo, ada banyak pencapaian luar biasa ia lakukan yang membuatnya terkenal. Berbagai gedung megah dibangun olehnya, antara lain: (1) Bait Suci Yerusalem (957 SM) yang dibangun selama tujuh tahun dan digunakan untuk tempat penyimpanan Tabut Perjanjian dan pusat ibadah umat Israel. (2) Istana Salomo yang dikenal sebagai Istana Hutan Lebanon karena banyaknya tiang kayu Aras dari Lebanon yang dipakai. (3) Tembok Yerusalem dan beberapa kota utama, seperti Hazor, Megido, dan Gezer. Di kota-kota tersebut dibangun benteng untuk melindungi terhadap serangan musuh (1Raj. 9:15).

Akan tetapi, di balik semua pekerjaan besar dan usaha yang dilakukan Salomo, segala pencapaian dan popularitas yang ia ingin raih, pada akhirnya berujung pada kesia-siaan. Pada saat meninggalkan dunia, Salomo menyadari bahwa semuanya itu akan dinikmati oleh orang lain. Apa yang menjadi miliknya akan menjadi milik orang lain. Semua seakan usaha menjaring angin.

Sobat terkasih, banyak orang yang mengejar keberhasilan dan popularitas dengan membabi buta. Tanpa disadari, pengejaran itu membuat hidupnya melenceng jauh dari kehendak Tuhan. Seseorang bahkan bisa berubah menjadi sangat jahat dan tidak peduli dengan orang lain, bahkan tidak peduli kepada Tuhan karena terlalu sibuk mengejar popularitas. Lebih baik bersyukur menjadi diri sendiri, daripada hidup hanya kejar puja-puji dan jadi lupa diri.

Mari mendoakan diri, juga orang-orang di sekitar kita. Jika selama ini kita telah hidup dalam buaian mimpi surga dunia demi kejar tayang pengakuan siapa diri kita, hendaklah mengingat kembali makna hidup sejati kita adalah takut akan Tuhan. Di luar Tuhan adalah kesia-siaan belaka.


Refleksi Diri:

  • Apa yang selama ini Anda kejar dari hidup? Nama besar atau makna hidup sejati di dalam Kristus?
  • Apa yang bisa Anda lakukan agar dalam menjalani hidup tidak terjebak untuk mencari pengakuan diri?