Bagikan artikel ini :

Naik Keledai

Markus 11:1-11

Lalu mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya.
- Markus 11:7

Saya pernah main bersama keluarga ke sebuah tempat yang sejuk, dimana terdapat binatang-binatang yang dirawat dengan baik. Di sana saya untuk pertama kalinya melihat tiga jenis kuda. Pertama, kuda biasa, yaitu kuda yang biasa ditunggangi orang. Kudanya tinggi besar, gagah, gesit, orang yang menungganginya akan tampak gagah. Kedua, kuda poni. Ini kali pertama saya melihat kuda poni. Bentuknya lucu, mungil, dan menggemaskan. Ketiga, keledai. Kuda ini tampak paling biasa dari kedua jenis kuda lainnya. Posturnya sedang-sedang saja, tetapi tampak lebih tenang. Keledai memang tidak secepat kuda, tetapi ia dipakai di zaman Yesus hidup sebagai alat transportasi dan hewan pengangkut karena punya daya tahan yang kuat. Saya langsung teringat kisah Yesus naik keledai ketika masuk ke Yerusalem.

Tuhan Yesus adalah Mesias yang dinantikan oleh orang Israel, yaitu seorang raja yang akan membawa kejayaan. Layaknya raja, seharusnya Yesus datang dengan menunggangi kuda yang gagah membuat orang-orang terpesona. Namun, Yesus datang memilih menunggangi keledai. Dia memasuki Yerusalem dengan tenangnya dan orang-orang mengelu-elukan-Nya. Yesus datang sebagai raja yang membawa damai. Raja yang menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan manusia. Raja yang mengalahkan kuasa maut dengan memberikan diri-Nya. Sang Raja yang naik keledai, yang mengerti untuk apa Dia datang ke dalam dunia, apa yang harus Dia lakukan dan Dia taat melakukan semuanya itu.

Dunia ini seringkali membiaskan pandangan kita tentang siapa diri kita. Banyak orang berusaha flexing (pamer) tentang apa yang dimilikinya. Ada orang yang merasa dirinya berharga kalau memakai barang-barang bermerk kelas atas. Bahkan ada yang rela pakai barang KW (palsu, tapi mirip yang asli) supaya dapat pengakuan. Perhatikan bagaimana Tuhan Yesus hidup di dalam dunia. Yesus tidak perlu flexing tentang kemewahan dunia ini, Dia mengajarkan kita untuk memahami siapa kita di dalam Tuhan, apa yang harus kita lakukan di dunia. Keberhargaan kita bukan dari apa yang kita kenakan atau miliki, tetapi tentang siapa kita di dalam Kristus. Hiduplah sesuai identitas kita di dalam Kristus.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda termasuk orang yang melihat keberhargaan diri dari apa yang dikenakan atau dimiliki?
  • Apa sikap yang ingin Anda ubah, supaya tidak terjebak menunjukkan keberhargaan diri dengan apa yang Anda kenakan atau miliki?