Move Forward (Bergerak Maju)
Galatia 6:7-8
Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.
- Galatia 6:8
“Hukum karma” adalah sebuah konsep yang dikenal dengan nama yang berbeda-beda di berbagai agama-agama Timur (misalnya Hindu, Buddha, Jainisme, Sikh, bahkan Taoisme dan agama-agama New Age). Namun, tahukah Anda bahwa Alkitab pun mengajarkan prinsip yang mirip? Prinsip ini biasanya disebut “hukum tabur-tuai”, yakni apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (ay. 7). Apa perbedaan hukum tabur-tuai dengan karma? Karma dianggap sebagai suatu proses yang berlangsung tanpa agen berpribadi di baliknya. Sementara kita sebagai orang Kristen percaya bahwa hukum tabur-tuai diatur oleh Sesosok Pribadi yang Mahakuasa, yakni Tuhan.
Tentunya hukum tabur-tuai tidaklah sesederhana dan setransaksional, “Kalau kamu berbuat dosa, kamu akan masuk neraka” dan sebaliknya, “Kalau kamu orang baik, kamu akan masuk surga.” Hal ini dikarenakan keselamatan adalah anugerah dan bukan karena usaha kita sebagai manusia. Namun, bagaimana dengan kehidupan kita sehari-hari sesudah menerima keselamatan? Apakah kita boleh enak-enakan berbuat dosa?
Tidak! Rasul Paulus mengingatkan kita agar tidak mempermainkan Tuhan (ay. 7). Selain hal-hal yang berkenaan dengan keselamatan, hukum tabur-tuai berlaku dalam hidup sehari-hari. Ketika kita “menabur dalam daging”, artinya tetap hidup dalam dosa maka kita akan “menuai kebinasaan.” “Kebinasaan” di sini tidak harus dimengerti sebagai kematian kekal di neraka, tetapi merujuk pada sesuatu yang “busuk,” “rusak,” “tidak berguna”. Dengan kata lain, ketika kita tetap hidup dalam dosa, hidup kita bukannya menjadi dupa yang harum di hadapan Tuhan, melainkan bau busuk. Moral kita yang rusak akan dilihat bahkan diteladani orang sekitar kita dan pada akhirnya merusak moral mereka pula. Kita pun berakhir sebagai orang yang tidak berguna, dalam artian tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan.
Banyak orang Kristen tidak mengalami kemajuan dalam proses pengudusannya dan gagal menjadi serupa Kristus karena mereka tetap memilih berkubang dalam dosa-dosa favoritnya. Stagnansi gereja bukan terjadi karena fasilitas yang tidak memadai atau ibadah yang kurang mentereng, melainkan karena stagnansi iman jemaat-jemaatnya.
Tuhan menuntun kita agar terus maju dan meninggalkan dosa-dosa favorit kita. Maukah kita berjalan bersama-Nya?
Refleksi Diri:
- Adakah dosa-dosa favorit yang sampai saat ini tetap Anda lakukan? Bagaimana dosa-dosa favorit ini perlahan merusak Anda dan orang-orang sekeliling Anda?
- Menurut Anda, mengapa sangat sulit melawan dosa-dosa ini? Bersediakah Anda memohon Tuhan untuk menuntun Anda menjauhi dosa-dosa favorit tersebut?
