Menyikapi Kecerdasan Buatan
Efesus 5:11-17
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup (pōs peripateíte), janganlah seperti orang bebal (mē hōs ásophoi), tetapi seperti orang arif (all’ hōs sophoí.
- Efesus 5:15
Beberapa tahun belakangan ini, ramai dibicarakan mengenai Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). AI adalah cabang dari ilmu komputer yang berfokus pada pembuatan sistem atau program komputer yang dapat meniru kemampuan berpikir dan bertindak seperti manusia. AI bisa dimanfaatkan, misalnya untuk mengenali wajah atau benda dan mencocokkan dengan data seseorang atau kepemilikan benda tersebut. AI juga mampu menerjemahkan berbagai bahasa ke dalam bahasa yang kita mengerti hanya dalam hitungan detik. AI juga diterapkan dalam dunia otomotif berupa mobil tanpa pengemudi (self driving car) dan masih banyak lagi aplikasi lainnya.
Kita sadari atau tidak, AI telah merambah hampir semua bidang kehidupan. Perkembangan teknologi adalah buah karya manusia sebagai pemegang mandat budaya (Kej. 2:15). Pada dasarnya produk teknologi adalah netral, tetapi karena manusia tercemar oleh dosa sejak kejatuhan Adam dan Hawa sampai hari ini (Rm. 3:23), mereka kerap memakai teknologi untuk melakukan kejahatan atau bahkan melawan Allah. Bagaimana menyikapi kemajuan teknologi sebagai orang Kristen yang takut Tuhan?
Ayat emas dalam bahasa Yunani bisa kita uraikan demikian:
- pōs peripateíte artinya bagaimana kamu berjalan. Akar kata peripateō artinya saya berjalan. Ini adalah metafora umum dalam Alkitab untuk menjelaskan gaya hidup.
- mē hōs ásophoi artinya bukan sebagai orang bodoh. Akar kata asophoi memiliki arti orang yang tidak bijak, tidak takut akan Allah (bdk. Mzm. 14:1), yaitu mereka yang hidupnya tidak memedulikan hal-hal rohani dan meninggalkan Tuhan.
- all’ hōs sophoí artinya melainkan sebagai orang bijaksana. Akar kata sophoí menunjuk pada hikmat sejati dari Tuhan, bukan sekadar kecerdasan, tetapi hikmat berdasarkan takut akan Tuhan (bdk. Ams. 1:7).
Sobat terkasih, menjadi bijak di tengah kefasikan dunia modern kian tidak mudah. Kerap kali kebenaran yang palsu mirip dengan kebenaran sejati, dan kita menjadi bingung untuk memilih dan memutuskan, bukan? Karena itu, milikilah gaya hidup orang bijak yang peduli dengan kerohanian kita. Mintalah hikmat dari Tuhan untuk sungguh memahami kebenaran firman Tuhan yang didasarkan atas rasa takut dan hormat kepada-Nya.
Refleksi Diri:
- Bagaimana Anda memanfaatkan teknologi selama ini? Apakah untuk melakukan hal-hal yang melawan atau memuliakan Tuhan?
- Apa bentuk penerapan teknologi yang Anda pikirkan bisa menunjang pelayanan atau pekerjaan Tuhan?
