Bagikan artikel ini :

Menjadi Berkat Di Saat Sulit

Kisah Para Rasul 27:21-26, 32-37

Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. Maka kuatlah hati semua orang itu, dan mereka pun makan juga.
- Kisah Para Rasul 27:35-36

Banyak hal di dunia ini sedang tidak berjalan baik-baik saja. Berita peperangan menjadi makanan kita sehari-hari, kesulitan ekonomi global membuat banyak orang tertekan dan penuh kekhawatiran. Apakah di tengah situasi sulit ini Anda masih terpikir untuk memberi kesaksian dan menjadi berkat bagi orang lain? Mungkin ada yang menjawab, “Mana mungkin bisa?” Jawaban kita bisa berubah, jika melihat apa yang dilakukan Rasul Paulus di Kisah Para Rasul 27 ini.

Situasi saat itu sangat menakutkan dan tidak pasti. Kapal yang mereka naiki tidak bisa kemana-mana, terjebak angin badai (Kis. 27:20). Namun, Paulus yang saat itu menjadi tahanan, menyatakan apa yang Tuhan kehendaki untuk dirinya, termasuk orang-orang yang ada di kapal. Padahal kalau Paulus mau egois, hanya memikirkan dirinya, ia cukup diam saja. Akan tetapi, Paulus tidak tinggal diam. Ia malah menabahkan hati 275 orang yang ada di sana (ay. 25, 37) dengan menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan di tengah situasi mencekam.

Bukan hanya menabahkan hati, Paulus juga mengajak mereka makan bersama supaya mendapat kekuatan. Ia memulainya dengan mengucap syukur (ay. 35) atas makanan yang disediakan meskipun terombang-ambing di atas kapal tak menentu. Tampak sederhana, tetapi lihat apa yang terjadi (ay. 36), mereka menjadi kuat hati dan makan bersama-sama.

Di dalam dunia ini, banyak orang yang belum mengenal Tuhan, hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Perjalanan iman kita bersama Tuhan dapat menjadi kesaksian yang efektif bagi mereka. Kesaksian kita cukuplah yang sederhana dari keseharian kita, tetapi menyatakan iman percaya kepada Tuhan di saat-saat sulit.

Ucapan syukur kita kepada Tuhan adalah kesaksian yang dapat membawa orang melihat kebaikan Tuhan. Doa makan yang sederhana, dengan hati penuh ucapan syukur, akan menjadi berkat buat orang lain. Mungkin juga cerita bagaimana Tuhan menolong mencukupkan kebutuhan Anda saat usaha sedang turun omsetnya atau diberhentikan dari pekerjaan, bisa menguatkan orang lain. Pengalaman-pengalaman tersebut jika dibagikan bisa menjadi kesaksian yang memberkati banyak orang.


Refleksi Diri:

  • Mengapa Anda dipanggil menjadi berkat bagi sesama, bahkan di saat-saat sulit?
  • Apa pengalaman di masa sulit yang mau Anda saksikan untuk menjadi berkat bagi orang lain?