Bagikan artikel ini :

Mengutamakan Tuhan

2 Tawarikh 19:1-3

Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: “Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau.
- 2 Tawarikh 19:2

Kitab Tawarikh yang berisi kisah kehidupan raja-raja Yehuda Selatan dan Israel Utara merupakan pelajaran hidup bagi kita. Sebuah pola berulang muncul di keseluruhan kitab ini, yakni Tuhan mau umat-Nya bertobat dan berpaling kepada-Nya dari dosa-dosa mereka. Di satu sisi Allah terlihat seperti hakim yang siap menghukum, tetapi di sisi lain Dia adalah Allah yang mengampuni dan mengasihi umat-Nya.

Pola ini nampak jelas di sepanjang pemerintahan Yosafat. Di awal pemerintahan, Yosafat melakukan yang benar dengan mencari Tuhan dan mengutus pembesar juga para imam untuk mengajar umat tentang Taurat (2Taw. 17:7-9). Saat Yosafat melakukan yang benar di hadapan Tuhan, keamanan dan kemakmuran didapatkan olehnya (2Taw. 17:3-5). Namun, Yosafat berpaling tidak setia kepada Tuhan ketika berbesan dengan Ahab (2Taw. 18:1) seorang raja Israel jahat penyembah berhala‒nyawanya hampir melayang di medan perang (2Taw. 18:28-34) dan ia mendapatkan teguran keras dari Tuhan.

Setelah mendapat teguran dari Tuhan melalui Nabi Yehu, Yosafat bertobat dengan mengajak rakyat berbalik kepada Tuhan. Ketaatan Yosafat ini membawa kemenangan ajaib atas tiga kerajaan, yakni Moab, Amon, dan Edom (2Taw. 20:1-2; 20-30). Sayangnya, seolah tidak kapok, Yosafat membuat kesalahan lagi. Ia malah bersekutu dengan Ahazia, anak Ahab (2Taw. 20:35-37). Jika persekutuan Yosafat dengan Ahab dikarenakan urusan militer untuk mengalahkan Aram dan negara tetangganya, maka persekutuan dengan Ahazia dikarenakan urusan membangun kekuatan armada angkatan lautnya. Persekutuan ini tidak membuahkan hasil karena Tuhan tidak berkenan atasnya. Yosafat sekali lagi hanya mencari keamanan diri, bukannya mendahulukan Tuhan di dalam setiap keputusan dan tindakannya.

Mengapa seseorang yang sudah melihat langsung karya Allah dalam hidupnya, mendapatkan teguran dari Tuhan, tetapi mengulangi kesalahan yang sama? Karena Tuhan bukan menjadi yang terutama dalam hidupnya. Ketaatan Yosafat kepada Allah berasal dari keinginannya untuk mendapatkan kekayaan dan keamanan bagi dirinya.

Belajarlah taat kepada Tuhan karena kita mau mengutamakan-Nya di dalam setiap aspek kehidupan kita. Jangan taat hanya karena kita ingin mendapatkan berkat-berkat-Nya. Hendaklah kita taat karena kita takut akan Tuhan dan karena kita mengasihi-Nya.


Refleksi Diri:

  • Apakah ada hal-hal lain yang lebih utama dalam hidup Anda selain Tuhan?
  • Apa langkah konkret dalam kehidupan Anda untuk lebih mengutamakan Tuhan?