Bagikan artikel ini :

Mengimani Kristus Di Tengah Badai

Markus 4:35-41

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
- Markus 4:40

Pada tahun 1873, Horatio Spafford, seorang pengacara Kristen dari Chicago, kehilangan empat putrinya dalam kecelakaan kapal laut. Dalam perjalanan melintasi Atlantik untuk bertemu dengan istrinya yang selamat, ia menulis lagu yang kini dikenal luas, berjudul It Is Well with My Soul. Di tengah kehilangan yang mendalam, Spafford menemukan istirahat jiwa yang nyata—sebuah damai yang tidak berasal dari dunia, tetapi dari Allah sendiri.

Di dalam Markus 4:35-41, kita melihat Yesus dan murid-murid-Nya dilanda badai dahsyat saat mengarungi danau. Para murid yang terbiasa menjadi nelayan panik menghadapi badai tersebut, sementara Yesus justru tidur. Ini bukan sekadar tidur karena lelah. Ini adalah ekspresi dari istirahat ilahi percaya penuh pada kendali Bapa, yang berdaulat atas segala sesuatu.

Ketika para murid membangunkan Yesus dengan nada putus asa, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ay. 38), Yesus pun bangun, lalu berdiri, menghardik angin dan danau. Dia lalu menegur para murid, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (ay. 40). Dari kejadian ini, kita bisa melihat bahwa terkadang saat menjalani hidup kita sudah begitu dekat dengan Yesus. Akan tetapi, ketika badai kehidupan menerpa, kita dipenuhi dengan ketakutan dan kepanikan, seolah Yesus tidak ada bersama kita.

Seorang teolog pernah menulis: Faith does not mean being sure where you’re going. Faith means trusting God as you go. (Iman tidak berarti tahu ke mana Anda akan pergi. Iman berarti memercayai Tuhan ke mana pun Anda pergi). Iman adalah memercayai Yesus sepenuhnya. Iman tidak meniadakan badai, tetapi memberikan kita tempat berteduh yang sejati, yaitu Yesus sendiri. Dalam badai kehidupan entah itu penderitaan, keraguan, beban pelayanan, dan sebagainya Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).

Marilah kita ingat hari ini, ketika kita hanya berfokus pada masalah maka masalah akan berlipat ganda. Namun, jika kita berfokus pada penyertaan Tuhan maka kita akan merasakan kedamaian, sukacita, dan pengharapan baru yang dipulihkan dan disegarkan.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda pernah merasakan Tuhan sedang “tertidur” ketika Anda menghadapi badai kehidupan? Bagaimana respons iman Anda saat itu?
  • Apakah Anda bersedia menerima undangan Kristus untuk menemukan kelegaan sejati, bahkan ketika keadaan tidak segera berubah?