Bagikan artikel ini :

Menghilangkan Kerakusan

Filipi 3:17-21

Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.
- Filipi 3:19

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tawaran kesenangan, seringkali manusia tanpa sadar menjadikan hal-hal duniawi sebagai pusat hidupnya. Sebagai contoh, restoran yang buka 24 jam, layanan antar makanan setiap saat, pesta makan-minum di kantor, dll. Kerakusan adalah sifat atau perilaku rakus, yaitu makan atau minum secara berlebihan. Kerakusan juga bisa berarti perilaku tidak terkontrol dalam mengonsumsi makanan, minuman atau bahkan harta benda hingga mencapai titik pemborosan atau keroyalan. Kerakusan bukan hanya soal makan, tetapi juga masalah tidak bisa mengendalikan keinginan diri.

Ayat emas di atas menggambarkan keadaan orang-orang yang hidup sebagai musuh salib Kristus. Mereka menolak nilai-nilai Injil dan hidup memuaskan keinginan daging. Perkataan Rasul Paulus “Tuhan mereka ialah perut mereka” mengkritik gaya hidup mereka yang diperbudak oleh hawa nafsu, kesenangan pribadi, dan hal-hal duniawi yang sementara. Mereka lebih mengejar kepuasan diri daripada kehendak Allah. Kemuliaan yang mereka banggakan justru sesuatu yang memalukan di mata Tuhan. Manusia tidak bisa melayani dua tuan (Mat. 6:24), yakni hidup dalam salib Kristus serta menjadikan diri sendiri dan kesenangan dunia sebagai pusat hidupnya.

Secara praktis, ayat emas mengajak kita untuk mengoreksi fokus hidup, apakah kita mengejar Kristus dan perkara surgawi ataukah kita hidup untuk memuaskan hasrat duniawi yang bersifat sementara? Dalam budaya modern yang sangat menekankan kenikmatan, status sosial dan kepuasan diri, godaan untuk menjadikan kesenangan sebagai “tuhan” sangat kuat. Seperti seseorang yang terus memakan makanan lezat, tetapi beracun—terasa nikmat sesaat, tapi membawa kematian—demikian juga hidup yang diarahkan semata-mata pada kenyamanan dunia akan berakhir dalam kekosongan dan kebinasaan karena menjauhkan
manusia dari anugerah dan kebenaran sejati di dalam Yesus Kristus.

Mari memprioritaskan waktu untuk hal-hal rohani seperti doa, firman Tuhan, dan pelayanan, serta belajar menyangkal diri—tidak mengikuti keinginan daging, tetapi melatih hidup yang berdisiplin, bersyukur, dan terarah pada tujuan kekal (Kol. 3:1-2). Latih diri kita berpuasa, bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal penguasaan diri terhadap semua bentuk konsumsi yang berlebihan.


Refleksi diri:

  • Apakah ada hal dalam hidup Anda, seperti kesenangan duniawi atau kepuasan diri, yang secara tidak sadar telah menjadi “tuhan” yang Anda ikuti lebih daripada Tuhan sendiri?
  • Bagaimana Anda bisa mengarahkan kembali fokus hidup Anda dari hal-hal duniawi kepada perkara-perkara yang kekal dan berkenan kepada Allah?