Mengetahui Kehendak Tuhan
Roma 12:1-5
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
- Roma 12:2
Salah satu tantangan terbesar orang percaya adalah membedakan mana kehendak Tuhan dan mana yang bukan. Banyak keputusan tampak baik secara logika, bahkan tampak “rohani”, tetapi belum tentu sesuai dengan kehendak-Nya. Inilah pentingnya pembaruan budi yang Paulus tekankan di ayat emas.
Perikop bacaan menegaskan bahwa mengetahui kehendak Tuhan tidak dapat dipisahkan dari sikap hati yang mempersembahkan hidup sebagai korban yang kudus dan berkenan kepada-Nya, serta pembaruan budi yang terus-menerus. Kehendak Tuhan dapat dikenali ketika kita rela diubah oleh Roh Kudus, menolak pola dunia, serta hidup dalam kerendahan hati dan kesatuan tubuh Kristus. Selain itu, setiap orang percaya hendaklah menyadari peran dan panggilannya untuk membangun komunitas iman sesuai karunia yang Allah berikan.
Alkitab mengajarkan bahwa kehendak Tuhan selalu selaras dengan firman-Nya (Mzm. 119:105). Tuhan tidak akan memimpin kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab, walaupun kelihatannya bermanfaat. Kehendak Tuhan juga membawa damai yang berasal dari Roh Kudus, bukan sekadar rasa nyaman manusiawi (Kol. 3:15). Selain itu, kehendak Tuhan membentuk karakter kita menjadi serupa Kristus, bukan sekadar memberi hasil instan (Rm. 8:29). Pendekatan apologetis menegaskan bahwa kehendak Tuhan bukanlah misteri yang hanya ditebak-tebak, melainkan dapat diukur dengan standar objektif, yaitu firman Allah. Dunia menawarkan banyak “jalan pintas” yang terlihat menarik, tetapi tanpa dasar firman, semua itu hanyalah imitasi yang menyesatkan.
Karena itu, sebelum memutuskan sesuatu, ujilah apakah keputusan tersebut kehendak Tuhan atau bukan? Tanyakan beberapa pertanyaan berikut: Pertama, apakah sesuai dengan prinsip firman Tuhan? Kedua, apakah memuliakan Kristus atau hanya memuaskan ego kita? Ketiga, apakah membentuk karakter kita atau hanya memberi kepuasan sesaat? Berdoalah agar Tuhan memperbarui pikiran kita setiap harinya dengan firman-Nya supaya kita mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, yang dari Tuhan dan yang dari dunia. Kiranya kita mampu memilih jalan yang memuliakan nama Tuhan, walaupun mungkin jalan itu sulit.
Refleksi Diri:
- Dalam keputusan sehari-hari (pekerjaan, keluarga, pelayanan), apakah Anda sungguh menempatkan hidup sebagai persembahan bagi Tuhan atau masih lebih sering menuruti keinginan diri sendiri?
- Bagaimana Anda ingin melatih diri untuk membedakan kehendak Tuhan dari pola dunia, misalnya melalui doa, pembacaan firman dan hidup dalam komunitas tubuh Kristus?
