Bagikan artikel ini :

Mengenali Akar Iri Hati

Yakobus 3:13-18

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
- Yakobus 3:16

Seperti rumput liar yang tumbuh diam-diam di antara bunga-bunga taman yang indah, iri hati seringkali menyelinap masuk ke dalam hati tanpa disadari. Ia bisa muncul dari pikiran yang berpikiran sempit, mengapa dia yang dipuji, bukan aku? atau mengapa hidupnya tampak lebih mudah? Rasul Yakobus memperingatkan bahwa iri hati adalah akar dari kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (ay. 16).

Dalam perikop bacaan hari ini, Yakobus berbicara tentang dua jenis hikmat: hikmat dari atas (dari Allah) dan hikmat duniawi yang penuh dengan iri hati dan ambisi pribadi. Hikmat dari atas itu murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, dan buah-buahnya baik. Namun, hikmat duniawi didorong oleh iri hati, membawa hasil yang sangat berbeda, yakni kekacauan dan kerusakan relasi.

Kita tidak akan pernah mencapai kebahagiaan sejati sampai kita belajar melihat berkat-berkat Tuhan yang diterima oleh orang lain, tanpa merasa terancam olehnya. Ini selaras dengan semangat hikmat dari atas, yang membawa damai, bukan persaingan. Hikmat ilahi memampukan kita untuk hidup dalam relasi yang sehat, saling membangun, dan bukannya menjatuhkan.

Kita bisa melihat kisah-kisah di Alkitab, bagaimana iri hati menghasilkan kehancuran. Contohnya antara lain: Kain membunuh Habel karena persembahan adiknya diterima Tuhan; Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya karena mereka iri akan kasih ayah mereka kepadanya; Para pemimpin agama merasa terancam oleh pengaruh Yesus sehingga mereka memilih menyalibkan Dia. Iri hati adalah benih kecil yang jika tidak dicabut, akan tumbuh menjadi pohon besar yang menghasilkan buah-buah pahit.

Bagaimana kita bisa mencabut akar iri hati? Pertama, jujur mengakui keberadaannya di hadapan Tuhan. Kedua, menggantikannya dengan rasa syukur atas berkat-berkat kita sendiri dan sukacita atas berkat orang lain. Ketiga, memohon hikmat dari atas yang memampukan kita untuk hidup damai, sabar, dan tulus.

Seperti Rasul Paulus yang belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Flp. 4:11-13), kita pun diajak untuk menemukan kepuasan sejati bukan dari posisi atau materi yang dimiliki, melainkan di dalam Kristus. Hanya di dalam Kristus kita menemukan damai sejahtera yang melampaui segala akal dan kehidupan yang bebas dari belenggu iri hati.


Refleksi Diri:

  • Apa area-area kehidupan yang paling sering memicu iri hati dalam diri Anda?
  • Bagaimana Anda mempraktikkan ucapan syukur, baik atas apa yang Anda miliki maupun atas apa yang orang lain miliki?