Bagikan artikel ini :

Mengatakan Apa Yang Ingin Didengar Orang

2 Tawarikh 18:4-12

Oleh karena, ya sungguh karena mereka menyesatkan umat-Ku dengan mengatakan: Damai sejahtera, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera.
- Yehezkiel 13:10

 

Tidak hanya Ahab dan Yosafat berbesan, raja Israel Utara yang jahat itu mengajak Yosafat untuk mengadakan aliansi melawan kerajaan Aram di Ramot-Gilead. Sebagai raja yang taat kepada Tuhan, Yosafat meminta petunjuk dari nabi. Sayang sekali, nabi-nabi Ahab adalah nabi-nabi palsu yang makin membujuk Yosafat untuk membangun aliansi tersebut.

 

Perhatikan bagaimana trik nabi-nabi palsu menyesatkan orang percaya, “Majulah! Allah akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.” (ay. 5). Tiga kali diulang bagaimana nabi-nabi palsu ini memberikan nubuatan yang indah-indah kepada Ahab dan Yosafat, “… engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka” (ay. 10), “… TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja” (ay. 11). Itulah nabi palsu. Yang mereka beritakan bukanlah firman kebenaran, melainkan hal-hal yang ingin didengar orang. Perkataan-perkataan enak didengar adalah komoditas yang dijual oleh nabi-nabi palsu dan yang juga disukai oleh orang-orang yang suka membohongi diri dan tetap bebal dalam dosanya seperti Ahab.

 

Seringkali kita membayangkan nabi palsu sebagai pemimpin sekte-sekte sesat dan orang-orang yang menyangkal doktrin-doktrin fundamental seperti keilahian Kristus dan Allah tritunggal. Ini memang benar. Akan tetapi, yang justru lebih berbahaya adalah nabi-nabi yang hanya mengatakan hal-hal yang kita sukai dan bukan firman Tuhan. Justru nabi-nabi palsu seperti ini lebih berbahaya karena membuat orang lengah dengan kata-kata manis mereka. Asalkan kita memiliki pengetahuan doktrin yang cukup matang, kita dapat langsung menyadari kesesatan seorang pengkhotbah atau pengajar dan berhenti mendengarkan mereka. Namun, bagaimana dengan nabi-nabi palsu yang sudah tahu jemaatnya hidup dalam dosa, tetapi masih tetap mengkhotbahkan, “Tuhan akan memberkati kita semua,” “Tuhan adalah Allah yang Maha Pengampun. Karena itu, kita tidak perlu khawatir jika jatuh terus dalam dosa”? Kita suka mendengarkan pesan-pesan yang enak didengar seperti ini, bukan?

 

Kita yang masih hidup berkubang dalam dosa perlu mendengar pesan yang keras dan tidak mengenakkan. “Kita harus berbalik dari dosa-dosa kita!” “Apa tunggu Tuhan menghajar kita, baru kita bertobat?!” Pertanyaannya, apakah kita lebih memilih mendengar suara Tuhan yang keras atau kata-kata manis yang ingin kita dengar?


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda cenderung lebih suka mendengar khotbah-khotbah yang enak didengar? Sebaliknya, bagaimana respons dan sikap hati Anda ketika mendengarkan khotbah-khotbah yang keras?
  • Apa yang membuat banyak orang Kristen tidak menyukai khotbah-khotbah yang menegur dan keras?