Bagikan artikel ini :

Mengasihi Tuhan Karena Kedekatan Relasi

Matius 22:34-40

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
- Matius 22:37

Ingatkah Anda dengan lagu Sekolah Minggu yang liriknya berbunyi demikian: Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku. Walau ‘ku kecil lemah, aku ini milik-Nya. Yesus Tuhanku, sayang padaku. Itu firman-Nya, di dalam Alkitab. Bagi Anda yang berasal dari keluarga Kristen, lagu ini mungkin pernah diajarkan orangtua Anda sejak kecil, tetapi faktanya saat dewasa, mungkin tidak mudah bagi Anda untuk memahami dan memercayai kasih Tuhan. Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah hubungan orangtua dengan anak yang terdistorsi. Seorang anak sulit untuk melihat kasih Alah karena tidak mendapatkan kasih dari orangtuanya. Ia mungkin susah memahami kasih Bapa karena sering diperlakukan buruk oleh ayahnya. Namun, kasih Allah adalah sempurna sehingga Dia memampukan kita menyelami kasih yang sempurna tersebut di tengah keterbatasan yang ada dan memampukan kita mengasihi-Nya. Pemahaman ini akan menolong kita melihat bahwa kasih kita kepada Allah selalu berasal dari kasih-Nya kepada kita.

Teolog R.T. France menyebutkan bahwa kasih kepada Tuhan merupakan pengalaman spiritual yang berpusat pada relasi antara diri sendiri bersama dengan Tuhan. Semakin kita memiliki relasi yang dekat dan lekat dengan Tuhan, semakin kita akan menyadari akan kasih-Nya. Kita dapat melakukan hukum yang pertama bukan karena pemahaman teologis saja, tetapi juga didasarkan pada pengalaman spiritual kita dengan Tuhan setiap harinya. Ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi Tuhan maka dengan sendirinya kita akan terus mendekatkan diri kepada-Nya. Kita akan mencintai firman Tuhan, melakukan segala sesuatu dengan selalu melibatkan-Nya dan berdoa kepada Tuhan meminta-Nya senantiasa berjalan bersama kita.

Kiranya kesadaran akan cinta kasih Allah yang tak terbatas dan tanpa syarat tersebut dapat menjadi pijakan dalam kita mengasihi Allah dengan sungguh dan segenap hati. Mari mengaplikasikan firman Tuhan mulai hari ini dengan mengambil waktu khusus dan konsisten dalam bersaat teduh. Lakukanlah saat teduh dengan lebih perlahan, jangan tergesa-gesa, baik dalam membaca firman, merenungkannya, dan berdoa kepada-Nya. Kasihilah Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi kita, serta dengan hati yang tulus yang diungkapkan melalui kedekatan kita dengan-Nya.


Refleksi Diri:

  • Apakah pengalaman relasi Anda dengan orangtua telah memengaruhi cara Anda melihat dan memahami relasi dengan Tuhan? Apa akibatnya yang Anda rasakan?
  • Apa yang Anda lakukan sebagai wujud nyata Anda mengasihi Tuhan?