Mengakui Kedalaman Dosa
1 Yohanes 1:5-10
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
- 1 Yohanes 1:9
Seorang anak kecil mencoret tembok rumah dengan spidol merah. Saat ibunya bertanya, “Siapa yang melakukannya?”, ia dengan polos menjawab, “Bukan aku, mungkin kucing,” padahal hanya ada satu anak dan tidak ada kucing di rumah tersebut. Kita mungkin tersenyum membaca cerita jenaka ini, tetapi kenyataannya kita pun sering seperti anak tersebut di hadapan Allah—menyangkal, berbohong, dan menutupi.
Pasal 1 Yohanes 1:5-10 menekankan sifat Allah sebagai terang—simbol kekudusan, kebenaran, dan kesempurnaan moral. Ini menunjukkan bahwa tidak ada ruang kompromi terhadap dosa dalam hadirat-Nya. Rasul Yohanes secara tegas menyatakan bahwa persekutuan dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang selaras dengan karakter-Nya. Menyangkal dosa atau mengklaim tidak berdosa, sama dengan membohongi diri sendiri dan menjadikan Allah pembohong sebab firman-Nya dengan jelas menyatakan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Dengan kasih-Nya, Allah menyediakan jalan pemulihan melalui pengakuan dosa. Pengampunan dan penyucian tersedia karena Kristus, yang darah-Nya telah menebus dan menyucikan orang percaya. Hal ini meneguhkan inti Injil: keselamatan tidak bergantung pada usaha manusia, melainkan pada kasih karunia Allah yang setia dan adil.
Bagian firman ini mengajak kita untuk hidup jujur di hadapan Allah dan diri sendiri. Sebelum kita dapat dibebaskan, kita harus mengakui bahwa kita terikat oleh dosa. R.C. Sproul berpendapat, “Pentingnya pengakuan dosa bukan hanya soal kelegaan emosional, tetapi pemulihan relasi yang rusak antara manusia dan Allah.” Pengakuan dosa bukan hanya langkah awal menuju keselamatan, tetapi juga gaya hidup orang Kristen sejati, hidup dalam pertobatan terus-menerus dan kesadaran atas kebutuhan akan kasih karunia setiap hari.
Hidup dalam terang berarti bersikap terbuka, tidak menyembunyikan dosa, dan membangun relasi yang sehat dengan sesama melalui kejujuran dan pertobatan. Hendaklah kita mendorong pembentukan komunitas yang saling menopang secara rohani, yang di dalamnya dosa tidak lagi ditutupi, melainkan diakui dan ditangani dengan kasih dan kebenaran. Biarlah kehidupan Kristen kita menjadi kesaksian nyata dari kuasa penyucian dan pemulihan yang Allah kerjakan di dalam diri umat-Nya.
Refleksi Diri:
- Apakah ada dosa-dosa yang selama ini Anda sembunyikan dari Tuhan atau orang lain, padahal Anda tahu itu tidak selaras dengan terang-Nya?
- Bagaimana Anda dapat membangun kebiasaan pengakuan dosa dan hidup dalam terang, baik secara pribadi maupun dalam komunitas iman Anda?
