Bagikan artikel ini :

Mencari Allah Di Atas Segalanya

Yeremia 29:10-14

apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, kamu akan menemukan Aku.
- Yeremia 29:13-14a

Dunia yang kita hidupi sekarang ini, penuh dengan distraksi, seperti media sosial, ambisi pekerjaan, tekanan ekonomi, dan hiburan tak berkesudahan. Mudah sekali bagi kita menjadikan hal-hal tersebut sebagai pusat kehidupan. Tanpa sadar, hati kita mengejar banyak hal, tetapi melupakan Pribadi yang paling utama, yaitu Tuhan Allah.

Yeremia 29:10-14 menunjukkan bahwa Allah tidak melupakan umat-Nya. Bahkan ketika mereka berada dalam penderitaan akibat dosa mereka sendiri, Allah tetap punya rencana penuh damai. Namun, janji ini bersyarat, yakni umat harus mencari Tuhan dengan segenap hati. Artinya, bukan sekadar mencari berkat-berkat-Nya, tetapi mendambakan Pribadi-Nya. Allah ingin umat datang bukan hanya saat ada kebutuhan, tetapi karena sungguh mengasihi-Nya.

Kedekatan dengan Allah menuntut kerinduan yang tulus. Janji indah disampaikan di ayat 13-14, yaitu siapa yang mencari Tuhan dengan segenap hati, akan menemukan Tuhan dan pemulihan. Kata “segenap hati” menunjukkan totalitas, bukan setengah hati. Allah tidak mencari hubungan yang basa-basi, melainkan relasi yang dalam, hangat, dan murni. Mencari Allah bukan hanya tentang aktivitas rohani seperti membaca Alkitab atau berdoa secara rutin, walaupun itu penting. Mencari Allah berarti menjadikan Dia sebagai kerinduan terdalam kita. Ketika bangun di pagi hari, kepada siapa kita berpaling terlebih dahulu? Ketika dalam pergumulan, kepada siapa kita berharap? Di situlah terungkap siapa yang benar-benar menjadi Allah dalam hidup kita. Allah berjanji akan memulihkan dan menuntun kembali umat-Nya (ay. 14) kepada siapa pun yang mencari-Nya dengan segenap hati.

Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Kita sering memutarbalikkan ayat ini, yakni dengan mencari “semuanya itu” dulu, baru mencari Tuhan belakangan. Ingat, Tuhan ingin agar relasi dengan-Nya menjadi pusat hidup, bukan pelengkap di saat senggang. Mari periksa hati, apa yang paling Anda pikirkan dan kejar hari ini? Apakah Allah atau hal-hal lain? Sediakan lima belas menit hari ini untuk berdiam diri di hadapan Tuhan, bukan untuk meminta, tetapi untuk mengenal-Nya lebih dalam. Tuliskan dalam jurnal: apa yang menggeser posisi Allah dari tempat utama di hidup Anda? Komitmenkan untuk mengubah prioritas tersebut di minggu ini.


Refleksi Diri:

  • Apa hal-hal yang mungkin menghalangi Anda untuk mencari Allah dengan segenap hati? Apakah kesibukan, kenyamanan atau mungkin relasi telah menjadi prioritas lebih tinggi daripada Tuhan?
  • Apa langkah konkret yang bisa Anda lakukan untuk lebih sungguh mencari Allah dalam doa, firman, dan ketaatan sehari-hari?