Menang Bersama Tuhan
2 Raja-raja 19:20-37
Sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu.
- Ulangan 20:4
Inilah klimaks perjalanan iman Hizkia. Ia sakit, tetapi disembuhkan. Ia menjadi sombong, tetapi bertobat ketika menerima teguran Tuhan. Ia mengalami gempuran pasukan Asyur yang besar dan ia datang kepada Tuhan, satu-satunya yang diandalkannya. Di bagian ini kita melihat iman Hizkia berbuah menjadi kemenangan telak, bahkan ia tidak perlu berperang sedikit pun untuk meraihnya.
Ingat bagaimana sombongnya Sanherib menantang penduduk Yehuda, memfitnah Hizkia, dan menista Tuhan. Namun, kita melihat pasukannya yang ia bangga-banggakan itu habis hanya dengan kehadiran satu Malaikat Tuhan saja, tidak perlu seluruh bala tentara surga dikerahkan. Ada satu hal menarik dengan figur Malaikat Tuhan ini. Ia muncul beberapa kali di seluruh Perjanjian Lama (Kej. 16:7-14, 22:11-15; Kel. 3:2-4; Bil. 22:22-38; Hak 2:1-4, dst.) dan berbicara serta bersikap layaknya Tuhan sendiri. Itulah sebabnya para ahli biblika sepakat bahwa Malaikat Tuhan adalah teofani (manifestasi dari Tuhan) atau bahkan kristofani (penampakan Kristus sebelum inkarnasi-Nya).
Entah manapun tafsirannya, poinnya jelas bahwa Tuhan hadir dalam peperangan tersebut dan Dia sendiri yang melindungi umat-Nya dari musuh-musuh-Nya. Dengan keperkasaanNya, dalam sekejap pasukan berjumlah 185.000 orang itu habis. Tangan Tuhan sendiri yang mencegat pasukan Asyur sehingga tidak sampai masuk ke kota Yerusalem. Tak hanya itu, Sanherib sendiri akhirnya menemui ajalnya di tangan kedua anaknya (ay. 36-37).
Tentu kita pernah merasakan kemenangan dalam perjalanan hidup bersama Tuhan. Ketika kita berhasil meraih mimpi kita, ketika berhasil dalam usaha kita, ketika kita atau orang yang kita kasihi sembuh dari suatu penyakit, bahkan ketika berhasil menunjukkan kasih kita kepada orang lain dan ketika menang melawan godaan dosa. Semua itu adalah kemenangan yang Tuhan berikan kepada kita, entah besar atau kecil.
Tentu, kita harus realistis mengakui bahwa kemenangan tidak selalu terjadi. Ada waktunya kita jatuh ke dalam dosa dan gagal mengasihi. Ada kalanya kemenangan sebagaimana yang kita harapkan tidak terjadi karena Tuhan memiliki rencana lain. Itulah mengapa kita perlu bersyukur dan memuliakan Tuhan yang telah memberikan kemenangan itu untuk kita.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda pernah atau sedang mengalami kemenangan di dalam Tuhan? Bagaimana perasaan Anda saat mengalaminya?
- Bagaimana cara Anda menunjukkan rasa syukur dan memuliakan Tuhan yang telah memberikan kemenangan tersebut?
