Memecat Nenek
2 Tawarikh 15:16-19
Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat daripada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.
- Pengkhotbah 4:13
Delapan hari yang lalu kita membaca bagaimana Rehabeam yang lebih memilih mendengar bisikan teman-temannya dan mengabaikan nasihat orang-orang tua. Pelajaran yang perlu dipetik adalah kita harus menghormati mereka yang lebih tua. Akan tetapi, kisah yang kita baca hari ini mengajarkan bahwa tidak semua orang yang lebih tua berada di posisi yang benar dan harus diikuti.
Raja Asa, dalam usaha melakukan pembaruan, memecat Maakha yang adalah nenek kandungnya sendiri dari jabatan sebagai ibu suri! Tindakan ini sepertinya kurang ajar sekali dan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap hukum kelima dari Sepuluh Perintah Allah. Di dalam budaya timur yang sangat menekankan respek kepada yang lebih tua, tindakan Asa sepertinya sungguh tidak terpuji.
Namun, kita perlu mengingat bahwa Maakha bukanlah orang benar. Ia membuat patung Asyera, dengan kata lain melakukan penyembahan berhala. Sangat mungkin ada orang-orang di Yehuda Selatan yang terjerat dalam penyembahan berhala tersebut. Itulah alasan mengapa Asa memutuskan untuk memecat Maakha, meski ia nenek kandungnya sendiri. Keputusan ini mendapat penilaian positif baik dari penulis Alkitab, bahkan dari Tuhan sendiri. Buktinya, Tuhan memberkatinya dengan keadaan tanpa perang selama 35 tahun (ay. 19).
Tindakan seperti ini memang dilematis. Di satu sisi, kita ingin memberikan penghormatan khusus kepada mereka yang lebih senior dan lebih tua. Di sisi lain, ada senior-senior dan orang-orang yang lebih tua seperti Maakha. Bukannya melakukan tindakan yang meneladani generasi lebih muda, mereka malah keras kepala bertindak bodoh atau bahkan tidak sesuai firman Tuhan. Dalam kondisi demikian, apa yang harus kita lakukan?
Pada saat menghadapi orang-orang yang demikian di komunitas kita ditempatkan (keluarga, tempat kerja, pelayanan, dan organisasi lainnya), kita diminta untuk meminta hikmat Tuhan untuk menghadapi mereka. Tentu saja harus dimulai dengan mengajak berdiskusi sambil memberikan teguran halus terlebih dahulu. Namun, jika mereka tetap bebal dan kehadirannya justru memperburuk keadaan, ada baiknya kita mengajak orang yang lebih senior lagi ataupun hamba Tuhan untuk menegur mereka.
Ingat, Pribadi yang harus mendapatkan penghormatan di atas segalanya adalah Tuhan, bukannya manusia, tak peduli berapa pun usianya.
Refleksi Diri:
- Pernahkah Anda kesulitan menghormati orang-orang senior atau lebih tua? Mengapa? Adakah teladan hidup atau nasihat mereka yang tidak sesuai firman Tuhan?
- Sebagai senior atau orang yang lebih tua, bagaimana cara Anda menjaga hidup yang menjadi teladan dan memberikan nasihat yang berhikmat kepada generasi yang lebih muda?
