Maksud Hati Memetik Bintang
Amsal 12:5-10
Lebih baik (towb) menjadi orang kecil (qalah), tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar (kabad), tetapi kekurangan makan.
- Amsal 12:9
Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati memetik bintang, apa daya tangan tak mampu gapai. Peribahasa ini menggambarkan adanya kesenjangan antara keinginan yang besar dengan kemampuan yang terbatas untuk mewujudkannya. Sayangnya, kemampuan yang terbatas terkadang muncul karena rasa malas untuk memulai atau terlalu banyak bermimpi tanpa bertindak.
Ayat di atas mudah untuk dicerna, tetapi bagi sebagian orang sulit untuk diterima. Mengapa? Karena menjadi diri sendiri apa adanya itu sukar. Sementara diri kita sering berharap menjadi orang besar, tetapi gagal melihat dan menerima kenyataan siapa diri kita sebenarnya.
Hidup yang selalu tenggelam dalam lamunan angan-angan adalah hidup yang sangat menderita karena tidak pernah bahagia menjadi diri sendiri. Ia selalu ingin menjadi orang lain, suka membandingkan diri dengan orang lain. Celakanya, angan-angan tersebut tak kunjung padam, kerap datang silih berganti, bahkan berjilid-jilid melebihi panjangnya drama Korea berseri.
Apa kata ayat emas pagi ini? Kata yang kita kupas adalah towb, artinya better atau lebih baik. Selain itu ada kata qalah, artinya be humiliated atau menjadi rendah. Mengapa menjadi lebih rendah itu lebih baik? Bagian selanjutnya menjelaskan secara kontras perbandingan menggunakan kata kabad, artinya to make self many atau membuat diri menjadi lebih. Maksudnya, menjadi diri sendiri meski rendah, itu jauh lebih baik daripada berlagak jadi orang besar, tetapi bukan diri kita yang sebenarnya.
Firman Tuhan mengajak kita melihat keunikan rencana Allah dalam diri kita dan bersyukur atasnya. Yang paling baik adalah menjadi sosok apa adanya sesuai maksud Tuhan, bukannya menjadi diri orang lain yang konon lebih ada apanya, yang ternyata hanyalah mimpi di siang bolong.
Mari sobat kita cari tahu, apa rencana Tuhan melalui diri kita agar kita tidak perlu menyesali jadi diri sendiri dan tidak menyalahkan sana-sini karena diri kita jadi begini. Konflik dalam diri harus segera dihentikan, supaya ada damai sukacita di hati yang membuat kita nyaman menjalani hidup ini.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda kerap menginginkan menjadi sosok yang bukan diri Anda dan membandingkan diri dengan orang lain? Apa dampaknya bagi Anda?
- Apakah Anda sudah mengetahui jati diri Anda seturut rencana Tuhan dalam hidup Anda?
