Makan Apa Hari Ini?
Markus 8:1-10
Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.
- Markus 8:2
Makan apa hari ini? Pertanyaan ini bisa bermakna ganda. Bagi orang yang berkecukupan, bisa berarti sedang memikirkan jenis makanan apa yang mau dimakan olehnya dari begitu banyak pilihan. Namun, bagi orang yang berkekurangan, pertanyaan ini berarti ia belum tentu bisa makan hari ini.
Jika membaca Markus 8:1-10, kita seringkali hanya fokus bagaimana Tuhan Yesus dengan ajaib bisa memberi makan empat ribu orang hanya dengan tujuh ketul roti dan beberapa ikan saja. Kita sebenarnya bisa melihat juga ketika Yesus melihat orang-orang yang mengikuti-Nya mulai lapar, lalu Dia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.” (ay. 2). Bisa saja Tuhan Yesus membiarkan mereka mencari makanan sendiri dan pastinya akan sulit untuk orang banyak tersebut. Lebih mudah bagi Yesus untuk tidak memikirkan tentang makanan mereka. Akan tetapi, Dia tidak melakukannya. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan sehingga Dia melakukan mukjizat dan orang-orang menjadi kenyang.
Kita diminta berdoa demikian: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat. 6:11). Kita diajar percaya pada pemeliharaan Tuhan yang nyata setiap harinya. Tuhan Yesus juga mengajarkan jangan khawatir soal makanan dan minuman, Dia pasti memelihara. Tentu saja bukan berarti kita bersantai-santai atau bahkan menganggur, lalu makanan akan dikirimkan Tuhan. Percayalah, di dalam setiap jerih lelah kita, Tuhan akan mencukupkan kebutuhan makanan kita. Bukan soal harga atau mewahnya, tetapi kita mengingat akan pemeliharaan Tuhan. Kita akan memandang secara berbeda makanan yang kita makan, jika menyadari semua ini. Berdoa makan bukan lagi formalitas, tetapi sungguh-sungguh ucapan syukur karena merupakan bukti pemeliharaan Tuhan.
Di zaman ini, begitu banyak orang yang suka memfoto makanannya dan kemudian mengunggahnya di media sosial. Sah-sah saja melakukannya, tetapi yang disayangkan jika motivasinya hanyalah untuk pamer. Makanan bisa menjadi sumber keegoisan kita. Jika diberikan berkat yang lebih, kita perlu memikirkan pergumulan orang lain. Betapa bersyukurnya kita bukan hanya menikmati makanan yang kita makan sendiri, tetapi bisa membagikannya kepada orang yang sedang kesulitan
Refleksi Diri:
- Mengapa penting untuk mengucap syukur atas makanan yang kita makan?
- Apakah Anda mau berbagi dan memberkati orang lain yang sedang kesulitan, jika Anda diberkati lebih oleh Tuhan? Bagaimana cara Anda berbagi berkat?
