"Lu Itu Ga Diajak"
2 Tawarikh 35:20-25
Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.
- Amsal 13:10
Sepanjang masa mudanya, Yosia telah mencari Tuhan. Kini, kira-kira di usia 39 tahun menurut beberapa penafsiran ahli Biblika, Yosia tidak lagi mendengar suara Tuhan. Ia berusaha menghentikan pasukan Firaun Nekho dari Mesir yang hendak berperang di Karkemis (ay. 20). Para sejarawan meyakini bahwa Firaun Nekho sebenarnya sedang membantu Asyur yang kian lama kian melemah untuk melawan Babel, adikuasa baru di dataran Timur Tengah. Mesir yang selama ini menjadi musuh bebuyutan Asyur, kini mau tidak mau harus bekerjasama dengan Asyur untuk meredam kekuatan Babel yang kian lama kian merajalela.
Jadi, apa hubungannya semua ini dengan Yosia? Tidak ada! Melihat aksi Yosia, saya jadi teringat meme kocak yang berbunyi, “Lu itu ga diajak, ga usah sok asik.” Yang diperangi adalah Babel, yang dibantu adalah Asyur, tapi yang maju melawan Nekho malah Yosia! “Lu itu gak diajak, ga usah sok jago,” itulah inti pesan Nekho kepada Yosia di ayat 21. Nekho bahkan menjadi penyampai pesan dari Tuhan kepada Yosia agar ia menghentikan penyerangan tersebut (ay. 21-22). Namun, Yosia tidak mendengarkannya sehingga gugur dalam peperangan tersebut (ay. 23-25)
Aksi Yosia sangat membingungkan, sampai-sampai berbagai ahli biblika punya penafsiran yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan ini adalah manuver politik Yosia untuk mencari simpati Babel. Ada yang mengatakan Yosia merasa wilayahnya terancam. Ada yang mengatakan Yosia hendak menguji kekuatan Nekho yang baru saja dinobatkan. Apapun alasannya, ujung-ujungnya kita bisa melihat alasan paling mendasar adalah karena ia “tidak mengindahkan kata-kata Nekho, yang merupakan pesan Allah” (ay. 22). Yosia merasa bahwa tidak mungkin Nekho, raja dari negeri asing, dapat membawa pesan Tuhan.
Inilah yang seringkali menjadi kejatuhan orang Kristen yang telah dewasa: menganggap bahwa Tuhan tidak dapat berbicara lewat orang yang kerohaniannya dianggap lebih rendah. Bersikap angkuh dan menolak nasihat, berujung pada konflik berkepanjangan. Itulah sebabnya jangan heran mendengar berita pendeta ini dan pendeta itu bercekcok, lantas gerejanya pun mengalami perpecahan.
Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menjadi pembawa damai, dan kadang caranya semudah merendahkan ego dan menerima nasihat orang lain.
Refleksi Diri:
- Bagaimana respons Anda saat mendapat kritik, saran atau masukan dari seorang yang Anda rasa lebih tidak rohani? Bagaimana perasaaan Anda ketika mendengar khotbah dari seseorang yang lebih muda yang tidak setara pengalamannya dibandingkan Anda?
- Apa yang membuat Anda merasa demikian? Apakah karena keangkuhan?
