Like Father, Like Son
2 Tawarikh 25:14-16
Orang benar yang bersih kelakuannya‒berbahagialah keturunannya.
- Amsal 20:7
Like father, like son. Sebagaimana sang ayah, demikian pula anaknya. Di bagian ini, kita membaca bagaimana Amazia, sesudah berhasil mengalahkan bani Seir, yakni bangsa Edom, bukannya berterima kasih kepada Tuhan atas kemenangan tersebut, malah membangun berhala dewa-dewa palsu bangsa Edom dan menyembahnya! Ini adalah kebodohan hakiki, apalagi mengingat bahwa pada masa itu perang antar bangsa dianggap sebagai peperangan allah mereka. Tidak heran bangsa yang dikalahkan pada umumnya akan ikut menyembah allah sesembahan bangsa yang menang. Namun, yang dilakukan Amazia malah sebaliknya, ia menyembah dewa-dewa dari bangsa yang kalah! Bukankah ini sebuah kebodohan?
Itulah sebabnya Tuhan mengutus nabi-Nya sekali lagi. Kali ini untuk memperingatkan Amazia agar menghentikan penyembahan berhala tersebut. Akan tetapi, Amazia justru terang-terangan melawan nabi tersebut, bahkan mengancam akan membunuhnya. Teringatkah Anda akan raja yang membunuh nabi utusan Tuhan? Yoas, ayah dari Amazia, membunuh Zakharia, nabi yang diutus Tuhan. Yoas pun mengalami penghakiman yang sangat berat dari Tuhan.
Bukannya belajar dari kesalahan ayahnya, Amazia justru melakukan yang sama, yakni mengancam akan membunuh nabi yang sekarang ada di hadapannya. Seolah-olah ia belajar dari teladan ayahnya bahwa ketika ada nabi yang menegurnya, solusi dari permasalahannya adalah membunuh nabi tersebut. Itulah sebabnya reaksi pertamanya adalah mengancam dengan pembunuhan. Benar-benar like father, like son.
Melalui kisah raja-raja yang telah dipelajari, kita melihat bagaimana besarnya pengaruh teladan orangtua kepada anak-anaknya. Sayang sekali, teladan seringkali diabaikan karena susah untuk dilakukan. Ketika anak Anda bandel, menghabiskan waktunya hanya dengan games dan sosmed, bergaul dengan teman yang salah atau kenakalan-kenakalan remaja lainnya, mudah untuk bereaksi dengan mendorongnya ikut pelayanan, mengirimi ayat-ayat Alkitab untuk mengingatkannya, menyuruhnya lebih sering membaca Alkitab dan melakukan saat teduh, bahkan mengomelinya dengan kata-kata rohani. Namun, semua kata-kata itu terpental dari kepalanya. Mengapa? Mungkin karena ia melihat Anda juga selalu sibuk dengan ponsel Anda. Mungkin karena ia melihat pergaulan Anda pun bukanlah pergaulan yang baik. Ingat, tanpa teladan yang baik, segala kata-kata dan nasihat-nasihat rohani Anda malah akan membuat mereka muak.
Refleksi Diri:
- Sebagai anak, apa teladan yang diperlihatkan orangtua Anda? Secara jujur, apakah mereka layak untuk menjadi panutan?
- Sebagai orangtua, apakah Anda sudah menjadi teladan yang baik bagi anak-anak? Apakah Anda lebih sering mendidik mereka sekadar dengan kata-kata daripada dengan perilaku hidup Anda?
