Bagikan artikel ini :

Lihat Apa Yang Tuhan Kerjakan

Daniel 4:28-37

Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.
- Daniel 4:37

Anda merasa puas dengan sesuatu yang telah Anda capai. Mungkin Anda mendapat nilai tertinggi di kelas, dipuji atas pekerjaan Anda atau berhasil menyelesaikan proyek penting. Anda lalu berpikir, aku ini hebat sekali! Anda merasa bangga atas pencapaian-pencapaian Anda. Perasaan tersebut manusiawi, bukan?

Raja Nebukadnezar juga merasakan hal yang sama. Ia berdiri di atas istananya, memandangi kota Babel yang besar dan megah. Ia berkata di dalam hatinya, lihatlah betapa hebatnya kota yang kubangun dengan kekuatanku sendiri untuk kemuliaanku! Di balik rasa bangganya, Nebukadnezar lupa bahwa semua yang ia miliki kekuasaan, kekayaan, dan kemampuannya adalah pemberian dari Tuhan. Kita pun bisa terperosok ke dalam pemikiran seperti itu. Ketika berhasil dalam pekerjaan, ini karena kepintaranku. Ketika hidup berkecukupan, ini karena kerja kerasku.

Apa yang terjadi pada Nebukadnezar selanjutnya mengejutkan. Tuhan membiarkan ia kehilangan kewarasannya seperti hewan liar selama tujuh masa. Ia makan rumput seperti sapi dan tubuhnya basah oleh embun. Sungguh memalukan penderitaannya! Tuhan melakukannya agar Nebukadnezar mengenal kebenaran tentang dirinya dan tentang siapa Tuhan sebenarnya. Setelah masa itu berakhir, Nebukadnezar mengangkat wajahnya ke langit. Kesadarannya kembali dan ia melihat kebenaran bahwa Tuhan adalah penguasa sejati atas segala sesuatu. Ia sadar dirinya hanyalah manusia biasa yang menerima anugerah Tuhan, demikian pengakuannya di ayat 37.

Kisah ini seperti cermin bagi kita. Kita mungkin tidak menjadi raja yang membangun kota megah, tetapi kita memiliki “kerajaan-kerajaan kecil” dalam hidup kita: karier, keluarga, talenta atau harta. Semua itu kadang membuat kita lupa diri. Tuhan tidak ingin kita harus jatuh sedalam Nebukadnezar untuk belajar tentang kerendahan hati.

Kerendahan hati bukan berarti kita harus merendahkan diri secara tidak wajar atau berpura-pura tidak memiliki kelebihan, melainkan hidup mengakui bahwa setiap tarikan napas, setiap kesempatan, dan setiap kemampuan yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Saat kita mencapai sesuatu yang baik, jangan berkata, “Lihat apa yang telah kulakukan!” Sepatutnya kita berkata, “Lihat apa yang Tuhan telah kerjakan padaku.”


Refleksi diri:

  • Apa pencapaian-pencapaian yang membuat Anda merasa bangga? Bagaimana Anda bisa mengubah rasa bangga tersebut menjadi ucapan syukur kepada Tuhan?
  • Apa situasi sulit dalam hidup yang Tuhan izinkan terjadi untuk mengajarkan kerendahan hati kepada Anda? Apa pelajaran yang Anda ambil?