Bagikan artikel ini :

" Kutuk Keluarga"?

2 Tawarikh 21:2-7

…tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
- Keluaran 34:7b

 

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar judul renungan ini? Seringkali kita mengaitkan “kutuk keluarga” dengan sesuatu yang berbau magis dan gaib. Misalnya, jika seorang ayah pergi ke perdukunan untuk memohon sesuatu maka anaknya yang akan mengalami kutukan. Anak ini dianggap telah “diserahkan ke setan” dan perlu dilepaskan dari kuasa-kuasa tersebut. Mengerikan, bukan? Namun, “kutuk keluarga” tidak mesti harus seperti demikian. Yoram, anak Yosafat, menunjukkan bahwa kutuk keluarga bisa jadi sesuatu yang sangat natural, bahkan merupakan normalitas.

 

Ingat kesalahan Yosafat, yakni berbesan dengan Ahab. Akibatnya, Yoram “hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab” (ay. 6). Mengapa? Sebab “isterinya adalah anak Ahab.” Jelas bahwa dampak dari kesalahan Yosafat tidak berhenti hanya pada dirinya. Anak-anaknya yang lain dibunuh oleh Yoram supaya tidak ada saingan (ay. 4). Yoram sendiri dicap sebagai raja yang “jahat di mata Tuhan.” Ini pun adalah bentuk dari kutuk keluarga. Intinya adalah segala konsekuensi dosa yang ditanggung tidak hanya oleh si pelaku dosa, tetapi juga sampai kepada anak cucunya. Lebih-lebih lagi jika anak cucunya ikut hidup dalam dosa tersebut.

 

Seringkali kita yang tidak pernah berurusan dengan dunia-dunia gaib lainnya merasa aman sendiri. Semua anakku baik-baik saja, karena aku tidak pernah ke dukun! demikian pemikiran kita. Akan tetapi, bacaan hari ini menjadi sebuah peringatan keras. Kutuk keluarga tidak hanya soal perdukunan, tetapi juga kebiasaan buruk yang diteladani oleh anak-anak kita, dan yang konsekuensinya berdampak kepada mereka. Seorang ayah yang melakukan KDRT terhadap istrinya akan menghasilkan anak-anak yang nantinya melakukan KDRT pula. Seorang ibu yang memperlakukan anak-anaknya dengan pilih kasih akan menghasilkan anak-anak yang pilih kasih pula. Ini pun dapat disebut “kutuk keluarga”.

 

Mengapa Tuhan sepertinya begitu kejam, mengizinkan konsekuensi dosa orangtua juga diderita anak-anaknya (Kel. 3:7b)? Pertama, supaya orangtua sadar bahwa yang terkena imbas perbuatan mereka adalah anak-anak mereka sehingga menjadi takut melakukan dosa tersebut. Kedua, supaya anak-anak berhenti meneruskan kebiasaan buruk orangtuanya. Mari kita putuskan rantai “kutuk keluarga” di generasi kita!


Refleksi Diri:

  • Apakah ada hal-hal berdosa yang Anda lakukan karena Anda meneladaninya dari orangtua Anda? Atau, apakah ada konsekuensi dosa dari orangtua Anda yang Anda alami sampai sekarang (misal: trauma, dst.)?
  • Apakah Anda ingin agar hal-hal ini tidak dialami anak-anak Anda? Jika ya, apa yang harus Anda lakukan supaya “kutuk keluarga” ini putus di generasi Anda dan tidak berlanjut keanak-anak Anda?