Kita Adalah Sahabat-Nya
Yohanes 15:12-16
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
- Yohanes 15:15
Kepada siapa kita biasanya membagikan rahasia terdalam, pergumulan hidup, dan isi hati yang tak sanggup kita ungkapkan kepada siapa pun? Tentu bukan kepada sembarang orang, melainkan kepada sahabat sejati mereka yang kita percaya, yang memahami kita tanpa perlu banyak kata, yang hadir bukan karena kepentingan, tetapi karena kasih yang tulus. Itulah yang membuat ucapan Yesus dalam Yohanes 15:15 begitu menggugah dan tak terduga. Dia berkata kepada para murid-Nya, “Aku menyebut kamu sahabat.” Yesus, Sang Anak Allah, Tuhan dan Guru, tidak memperlakukan pengikut-Nya sebagai hamba, melainkan sebagai sahabat.
Mengapa? Bagaimana mungkin? Semua hanya dapat dimengerti dengan satu kata “Anugerah”! Karena Tuhan Yesus telah membagikan kepada kita sebagai murid-murid-Nya, segala sesuatu yang didengar-Nya dari Bapa maka kita bukan hanya jadi penerima perintah, melainkan penerima isi hati Allah. Semua itu menjadikan kita sahabat Kristus.
Pernyataan Yesus ini akan sangat mengubah cara kita melihat iman Kristiani. Hubungan kita dengan Kristus bukan hanya soal tugas atau kewajiban agama, tetapi yang lebih utama adalah soal persekutuan yang akrab, terbuka, dan saling percaya dengan-Nya. Yesus tidak menyembunyikan kebenaran dan kerinduan-Nya dari kita. Dia memercayakan rahasia Kerajaan-Nya kepada kita karena kita adalah sahabat-sahabat-Nya. Namun, persahabatan ini bukan tanpa syarat. Dalam ayat sebelumnya, Yesus berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (ay. 14).
Jadi, persahabatan dengan Kristus tidak bisa dilepaskan dari kasih dan ketaatan. Yesus lebih dulu mengasihi dan mendekati kita, tetapi Dia juga memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya dalam kebenaran. Lebih dari itu, Yesus tidak hanya menyebut kita sahabat, Dia membuktikannya! Sebagaimana firman Tuhan menyatakan, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (ay. 13). Giliran kita sekarang adalah mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati dan menaati setiap perintah-Nya dalam setiap langkah hidup kita.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda sungguh menjalani hidup Anda sebagai seorang sahabat Kristus atau masih menjaga jarak dan menutup hati dari-Nya?
- Apa langkah konkret yang bisa Anda lakukan sebagai bukti Anda mengasihi dan menaati Yesus sebagai sahabat sejati?
