Bagikan artikel ini :

Keturunan Pertama... Keturunan Kedua... Keturunan Ketiga

2 Tawarikh 21:8-20

Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku. Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Ini pun sia-sia.
- Pengkhotbah 2:18-19

 

Sepenggal pepatah Tiongkok berbunyi 富不过三代 (Fù bùguò sāndài) yang berarti kekayaan tidak sampai tiga keturunan. Generasi pertama berjuang mendapatkannya. Generasi kedua, yang pernah mengecap kesulitan dan melihat perjuangan orangtuanya, meneruskan kesuksesan tersebut. Namun, generasi ketiga yang lahir dalam kelimpahan dan tidak pernah hidup susah, berfoya-foya dan menghabiskannya. Betapa nahasnya fakta kehidupan ini. Adakah yang lebih menyedihkan? Rupanya ada! Nasib keluarga Yosafat lebih nahas lagi! Pepatah ini mengatakan kekayaan akan habis di generasi ketiga, tetapi kekayaan Yosafat habis di generasi kedua, yakni anaknya sendiri, Yoram. Yosafat banyak memenangkan peperangan yang membuat bangsa-bangsa takluk kepada Yehuda Selatan. Kerajaan-kerajaan di sekelilingnya pun tidak berani berbuat macam-macam. Ia juga memperluas perbendaharaan kerajaan. Namun di dalam beberapa ayat ini, kita membaca semua pencapaiannya habis. Bangsa Edom dan Libna yang berada di bawah kekuasaannya memberontak (ay. 10). Kerajaan-kerajaan tetangganya Filistin, Arab, dan Etiopia memeranginya dan menjarah perbendaharaan kerajaan (ay. 16-17). Tak hanya itu, mereka juga membawa istri-istri dan anak-anaknya. Hanya anaknya yang bungsu, Yoahas, yang disisakan.

 

Segala pencapaian Yosafat habis hanya dalam satu generasi. Anak-anak dan cucu-cucunya yang dibunuh Yoram, bangsa-bangsa lain yang ditaklukkannya, dan segala kekayaan kerajaan yang diraihnya. Semua adalah karena dosa dan kebodohan Yoram, anaknya. Namun ingat, semua ini juga tak lepas dari dosa yang dilakukan Yosafat dan nubuat penghakiman yang diberikan Eliezer bahwa Tuhan akan merobohkan segala pencapaiannya (2Taw. 20:37).

 

Itulah pentingnya didikan yang baik, terutama lewat teladan hidup kita sebagai orangtua. Kasih terbesar yang dapat kita tunjukkan kepada anak-anak kita bukanlah dengan memanjakan apalagi menjauhkan disiplin daripadanya, melainkan dengan menjadi role model atau teladan yang membentuknya menjadi generasi yang sama baiknya bahkan lebih baik daripada kita. Biarlah warisan yang baik dapat diteruskan sampai keturunan-keturunan selanjutnya.


Refleksi Diri:

  • Apakah anak/cucu Anda sama, lebih buruk atau lebih baik secara intelektual, moral, keimanan, dsb. dibandingkan dengan teladan yang Anda berikan? Apa yang membuat Anda menilai demikian?
  • Apa warisan berharga yang Anda berikan kepada mereka? Iman Anda? Prinsip hidup? Harta benda?