Bagikan artikel ini :

Ketika Talenta Menjadi Tuhan

Matius 25:14-30

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.
- Lukas 12:48b

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang sangat berbakat? Seorang ahli musik, olahragawan atau yang lainnya. Namun seiring waktu, Anda menyadari bahwa orang tersebut mulai menempatkan talentanya sebagai sumber identitas dan kebanggaan utamanya. Tanpa disadari, talenta yang seharusnya menjadi alat pelayanan berubah menjadi altar penyembahan diri.

Dalam perumpamaan tentang talenta, Yesus mengajarkan bahwa setiap kemampuan yang kita miliki adalah sebuah tanggung jawab dari Tuhan. Kata “talenta” merupakan satuan mata uang dengan nilai yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memberikan sesuatu yang remeh kepada kita, melainkan sesuatu yang berharga dan memiliki potensi besar untuk kemuliaan-Nya. Masalah muncul ketika kita mulai berpikir bahwa talenta adalah milik kita sepenuhnya. Kita lupa bahwa kemampuan bernyanyi, kepandaian berbicara, kecerdasan analitis atau karisma kepemimpinan yang kita miliki bukanlah hasil kerja keras kita. Ada campur tangan Tuhan yang memberikan fondasi dasar kemampuan tersebut.

Kesombongan talenta seringkali dimulai dari perbandingan. Kita melihat orang lain yang kurang berbakat dan mulai merasa superior, “Mengapa ia tidak bisa melakukan ini? Ini pekerjaan yang mudah bagi saya. Seharusnya dia belajar dari saya yang lebih berpengalaman.” Sikap ini mencerminkan hati yang telah menempatkan talenta sebagai sumber kebanggaan, bukan sebagai alat untuk melayani.

Hamba yang menyembunyikan talentanya dalam perumpamaan ini mencerminkan sikap lain juga berbahaya, yaitu takut kehilangan reputasi atau menggunakan “kehati-hatian” sebagai dalih untuk tidak mengambil risiko. Ironisnya, sikap ini juga berakar pada kesombongan, yaitu kesombongan yang tidak mau terlihat gagal atau tidak sempurna di mata orang lain.

Tuhan memanggil kita untuk menggunakan talenta dengan kerendahan hati. Ini berarti mengakui bahwa kemampuan kita adalah pemberian-Nya. Kita menggunakan talenta kita untuk melayani orang lain, bukan untuk mencari pujian. Kita juga tetap bergantung kepada-Nya dalam setiap pencapaian. Ketika berhasil, kita mengucap syukur. Ketika gagal, kita belajar dan terus berusaha.

Ingatlah, talenta terbesar akan menjadi tidak berarti jika tidak diiringi dengan karakter yang rendah hati. Sebaliknya, talenta yang sederhana tetapi digunakan dengan hati yang tulus akan menghasilkan buah yang berlipat ganda untuk kemuliaan Tuhan.


Refleksi Diri:

  • Apakah Anda menggunakan talenta Anda untuk mencari pujian dan pengakuan atau untuk melayani Tuhan dan sesama?
  • Bagaimana Anda merespons ketika ada orang lain yang memiliki talenta yang sama atau bahkan lebih baik dari Anda?