Ketika Pengetahuan Membutakan Hati
Lukas 20:45-47
Janganlah menganggap dirimu pandai!
- Roma 12:16c
Pengetahuan adalah anugerah luar biasa dari Tuhan. Melalui pengetahuan, kita memahami dunia, mengenal kebenaran, dan dapat menjadi berkat bagi sesama. Namun, seperti pisau bermata dua, pengetahuan tanpa kasih dan kerendahan hati bisa menjadi alat yang melukai. Pengetahuan dapat menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama karena mengarahkan hati kita pada kebanggaan diri, bukannya pada pelayanan dan belas kasih.
Ayat emas hari ini dengan tegas memperingatkan, “Janganlah menganggap dirimu pandai!” Ayat ini adalah seruan untuk menjaga kerendahan hati, terutama ketika kita merasa memiliki pemahaman atau wawasan lebih. Dalam dunia yang menghargai kepintaran dan argumen yang kuat, kita bisa dengan mudah jatuh pada kesombongan intelektual. Kita bisa merasa diri selalu benar dan mengabaikan suara atau pandangan orang lain. Kesombongan semacam ini tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga menumpulkan hati terhadap kebenaran sejati.
Tuhan memanggil kita untuk menjadikan pengetahuan sebagai alat pelayanan, bukan alat pengendalian. Dalam Lukas 20:46, Yesus mengecam para ahli Taurat yang memanfaatkan pemahaman hukum Taurat mereka untuk mencari kehormatan pribadi. Mereka duduk di tempat terhormat, memakai jubah panjang, dan suka disapa di tempat umum. Semua itu adalah tanda bahwa pengetahuan mereka telah kehilangan tujuan utamanya, yaitu untuk mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama.
Pengetahuan sejati akan melahirkan sikap rendah hati. Bagaikan tanaman padi, makin berisi makin merunduk. Orang bijak akan menyadari bahwa semakin banyak ia tahu, semakin besar pula kesadarannya akan keterbatasannya. Dari sana akan tumbuh rasa syukur, belas kasih, dan kesediaan untuk belajar dari siapa pun, bahkan dari mereka yang dianggap kurang tahu.
Mari memeriksa motivasi kita. Apakah pengetahuan kita membuat kita semakin terbuka dan mengasihi atau justru menjadi batu sandungan bagi sesama? Apakah kita menggunakan pengetahuan untuk membangun atau sekadar untuk menang dalam perdebatan? Dalam dunia yang kerap mengagungkan prestasi intelektual, kita dipanggil untuk menjadi berbeda, yakni menunjukkan kerendahan hati sebagai tanda kedewasaan rohani yang sejati. Gunakanlah setiap pemahaman yang kita miliki bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menjembatani perbedaan, menguatkan, dan mengasihi sesama.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda sering merasa lebih bijak atau benar dibanding orang lain karena pengetahuan Anda?
- Bagaimana Anda dapat mengubah cara Anda menggunakan pengetahuan menjadi lebih melayani dan membangun orang lain dalam kasih?
