Bagikan artikel ini :

Ketika Berat Menjadi Kesombongan

Ulangan 8:11-20

Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan bersumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.
- Ulangan 8:18

Apakah Anda pernah memperhatikan seseorang yang sikapnya berubah ketika hidupnya diberi kelimpahan? Dulu ia rendah hati dan bergantung kepada Tuhan, tetapi setelah usahanya berkembang, kariernya melesat atau kehidupan finansialnya stabil, sikapnya berubah. Ia merasa pencapaiannya adalah hasil kerja keras dan kecerdasan sendiri. Orang tersebut melupakan campur tangan Tuhan dalam hidupnya.

Ulangan 8 ditulis sebagai peringatan bagi bangsa Israel yang akan memasuki Tanah Perjanjian, tanah yang berlimpah susu dan madu. Musa mengingatkan mereka agar tidak lupa kepada Tuhan ketika mereka sudah kenyang, memiliki rumah yang bagus, dan banyak ternak. Peringatan ini sangat relevan karena kemakmuran seringkali menjadi ujian yang lebih sulit daripada kemiskinan.

Ketika hidup sulit, kita mudah ingat untuk berdoa. Ketika sakit, kita cepat mencari Tuhan. Namun, ketika hidup berjalan lancar, kita cenderung lupa bahwa kita tetap membutuhkan-Nya. Kemakmuran dapat menciptakan ilusi bahwa kita sudah mandiri dan tidak perlu bergantung kepada siapa pun, termasuk Tuhan.

Kesombongan berkat tidak hanya soal uang atau materi, tetapi juga berkat-berkat lainnya seperti kesehatan, keluarga yang harmonis atau posisi yang terhormat. Kita mulai merasa lebih pintar dalam mengelola hidup dibandingkan orang lain yang hidupnya berantakan. Padahal jika mau jujur, ada banyak faktor di luar kendali kita yang berkontribusi pada kesuksesan kita, seperti dilahirkan dalam keluarga yang mendukung, memiliki kesempatan pendidikan yang baik, bertemu dengan orang-orang yang tepat pada waktu yang tepat atau bahkan tidak mengalami musibah besar. Semua itu adalah anugerah Tuhan yang tidak bisa kita klaim sebagai prestasi pribadi.

Musa mengingatkan bangsa Israel untuk “ingat kepada Tuhan” yang memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan. Saat kita ingat kepada Tuhan, kita akan bersyukur, bermurah hati, dan menggunakan berkat kita untuk kemuliaan-Nya.

Berkat Tuhan dianugerahkan bukan untuk menjadikan kita sombong, melainkan untuk menjadikan kita saluran berkat bagi orang lain. Hendaklah kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian-Nya sehingga kita akan lebih murah hati dalam memberi dan lebih bijak dalam mengelola apa yang dipercayakan kepada kita.


Refleksi Diri:

  • Apakah sikap Anda berubah ketika Tuhan memberkati hidup Anda dengan kelimpahan?
  • Bagaimana Anda dapat tetap mengingat Tuhan dan bergantung kepada-Nya di tengah kemakmuran?