Ketidakthuan Menghasilkan Penyerahan Diri
Amsal 27:1-2; Matius 7:9-11
Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.
- Amsal 27:1
Kita semua tidak tahu tentang hari esok diri kita, kita hanya tahu apa yang telah terjadi yang kita sebut sejarah, dan kita tahu apa yang sedang terjadi yang kita sebut masa kini. Mengapa? Karena hanya Tuhan yang tahu hari esok. Dialah yang merancang dan menentukan segala sesuatu bagi hidup kita di masa depan. Bagian kita adalah beriman penuh kepada Tuhan, bahwa Dia tidak pernah salah dalam rancangan-Nya bagi hidup kita.
Kalimat kunci ayat emas di atas dalam bahasa Ibrani berbunyi demikian al tiṯ·hal·lêl bə·yō·wm mā·ḥār. Arti secara gramatikalnya janganlah sombong mengenai hari esok (not do boast about tomorrow). Kalimat ini merupakan ajakan untuk introspeksi terhadap diri sendiri yang selalu diulang-ulang, khususnya tentang hari esok, karena melihat keterbatasan kita sebagai manusia, siapa pun dan apa pun status diri kita, juga pencapaian hidup kita sampai hari ini.
Ayat ini juga mengajak kita supaya jangan memuja dan memuji diri sendiri karena biasanya orang yang demikian sesungguhnya tidak percaya diri dan kurang yakin dengan kemampuan dirinya sendiri. Saat seseorang memuji dirinya sendiri apakah ia hebat, pintar, terkenal, dan pujian-pujian diri lainnya, maka akan muncul bahaya yang lain, yaitu dosa kesombongan dan keangkuhan diri. Sikap sombong kerap kali membuat kita mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi hari ini maupun hari esok, bukannya mengandalkan Tuhan yang mengetahui segala sesuatu tentang masa depan kita.
Sobat terkasih, Bapa yang baik tidak akan memberi batu kepada mereka yang minta roti, tidak pernah pula memberikan ular beracun kepada mereka yang minta ikan. Bapa di surga tahu apa yang terbaik bagi kita (Mat. 7:9-10). Rencana Tuhan memang terkadang sulit dimengerti, tetapi bisa kita rasakan dan alami selama kita tunduk kepada kehendakNya. Sikap ini menghasilkan penyerahan diri secara mutlak kepada Tuhan. Hendaklah kita belajar rendah hati dan taat pada kehendak-Nya sehari lepas sehari. Ingatlah Yesaya 55:8-9 yang berbunyi, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
Refleksi Diri:
- Apakah Anda sudah beriman penuh pada rancangan Tuhan atau lebih mengandalkan rancangan hidup yang Anda buat sendiri? Bacalah Yesaya 55:8-9 secara berulang.
- Apakah ada kesombongan akibat memuji diri Anda sendiri secara berlebihan? Bagaimana cara Anda belajar rendah hati dan taat pada kehendak Tuhan?
