Kesombongan Generasi
Titus 2:1-8
Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah.
- Titus 2:15
Mungkin Anda pernah mendengar komentar seperti ini, “Anak muda sekarang tidak menghargai orang tua” atau “orang tua zaman sekarang tidak mengerti teknologi.” Di setiap generasi, selalu ada kecenderungan untuk menganggap generasi sendiri lebih baik, bijak atau bermoral dibandingkan generasi yang lain. Kesombongan generasi adalah bentuk keangkuhan yang sering tidak disadari, tetapi sangat merusak kesatuan dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
Dalam surat Titus, Rasul Paulus memberikan nasihat yang sangat seimbang. Ia tidak hanya berbicara kepada satu kelompok umur, tetapi juga kepada semua generasi: lakilaki tua, wanita-wanita tua, orang-orang muda, dan perempuan muda. Setiap kelompok memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing, tetapi semuanya diperlukan dalam kesatuan tubuh Kristus. Paulus mengajarkan supaya orang-orang tua menjadi teladan dalam iman dan ketekunan (ay. 2), sementara anak-anak muda hendaknya menguasai diri dalam segala hal (ay. 6).
Kesombongan generasi yang lebih tua seringkali muncul dalam bentuk, “Di zaman kami, anak-anak lebih sopan” atau “generasi sekarang terlalu dimanja.” Mereka lupa bahwa setiap generasi memiliki tantangan dan konteks yang berbeda. Apa yang berhasil di masa lalu belum tentu relevan untuk masa kini. Di sisi lain, kesombongan generasi yang lebih muda seringkali muncul dalam bentuk, “Orang tua tidak mengerti zaman modern” atau “cara lama sudah tidak relevan lagi.” Kedua bentuk kesombongan ini sama-sama melupakan bahwa setiap generasi memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Generasi tua memiliki hikmat dan pengalaman hidup yang berharga. Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan pemahaman tentang dinamika zaman yang terus berubah.
Tuhan merancang gereja untuk menjadi rumah bagi semua generasi, tempat setiap orang dapat belajar dari yang lain. Ketika generasi yang berbeda dapat saling menghargai dan belajar, akan terjadi sinergi yang luar biasa. Gereja menjadi lebih kuat, keluarga menjadi lebih harmonis, dan masyarakat menjadi lebih sehat.
Mari belajar seperti Kristus yang menghargai semua generasi, yang menghormati orangtua seperti Maria dan Yusuf, tetapi juga memberkati anak-anak kecil. Yang mau belajar dari para rabi yang lebih tua, tetapi juga mengajar dengan otoritas kepada generasi-Nya. Dalam kerajaan Allah, tidak ada generasi yang lebih superior dari yang lain.
Refleksi Diri:
- Apakah Anda cenderung meremehkan atau merasa superior terhadap generasi yang berbeda dari Anda?
- Apa yang bisa Anda pelajari dari generasi lain? Apa kontribusi yang bisa Anda berikan untuk mereka?
