Bagikan artikel ini :

Kesombongan Digital

Markus 1:40-45

Dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.
- Galatia 5:26

Di era digital ini, kehidupan manusia seolah terbagi antara dunia nyata dan dunia maya. Teknologi memungkinkan kita untuk terhubung dan berbagi hampir semua aspek kehidupan. Namun, di balik kecanggihan teknologi, sering kali muncul hasrat untuk terlihat sempurna di hadapan orang lain. Kita terkadang lebih mementingkan citra diri di media sosial daripada kerendahan hati. Hal ini bukan hanya terjadi dalam hal penampilan atau materi, tetapi juga dalam hal pelayanan dan kerohanian. Kita merasa perlu untuk membagikan setiap aspek kehidupan kita, termasuk pelayanan agar mendapat pengakuan dan pujian dari orang lain.

Kesombongan digital bukan hanya tentang memamerkan harta atau status, tetapi juga bisa dalam bentuk pelayanan yang terlihat, doa yang dibagikan atau kesuksesan yang diunggah untuk mencari validasi. Dalam Galatia 5:26, Rasul Paulus mengingatkan kita untuk tidak gila hormat, yakni tidak terjebak dalam perasaan ingin dihormati atau diakui oleh orang lain. Dunia digital sering kali menjadi tempat perbandingan yang tidak sehat, dimana iri hati dan ketidakpuasan tumbuh subur.

Kita mungkin berkata, “Saya ingin memberkati orang lain,” tetapi apakah motivasi kita benar-benar untuk kemuliaan Tuhan atau justru untuk mendapatkan pengakuan dan pujian? Kita lupa bahwa pelayanan tidak perlu dilihat atau dipuji oleh banyak orang. Seperti yang dilakukan Yesus dalam Markus 1:44, setelah menyembuhkan orang kusta, Dia malah melarang orang tersebut menceritakan kesembuhannya kepada siapa pun. Yesus melayani dengan tulus, tanpa mencari sorotan atau popularitas. Pelayanan-Nya adalah bentuk kasih, bukan pencitraan.

Pencarian kehormatan manusia sejatinya adalah musuh dari kerendahan hati. Hal ini mengingatkan kita bahwa kesombongan digital, meski tersembunyi di balik layar gawai kita, bisa merusak integritas kita sebagai pengikut Kristus. Kita harus menjaga hati agar tidak terjebak dalam godaan untuk mencari penghargaan manusia.

Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk memeriksa motivasi hati kita dalam segala hal, terutama dalam penggunaan media sosial dan pelayanan. Jika apa yang kita lakukan lebih sering menjadi ajang untuk pencitraan diri daripada bentuk kasih kepada sesama maka kita perlu bertobat dan memurnikan niat kita. Ingatlah, Tuhan melihat hati kita bahkan ketika dunia tidak memperhatikan kita.


Refleksi Diri

  • Apakah Anda menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mencari pengakuan atau alat untuk memberkati orang lain?
  • Apakah pelayanan dan kerohanian Anda dibagikan demi kemuliaan Tuhan atau demi pencitraan diri?