Bagikan artikel ini :

Kesombongan Dalam Pelayanan

Kolose 3:23-24

Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.
- Kolose 3:24

Kita mungkin menghadapi pergumulan yang sama dalam melakukan pelayanan Kristen, yaitu apakah kita melayani untuk mendapatkan tepuk tangan manusia atau untuk kemuliaan Tuhan yang tak terlihat? Firman hari ini menghadirkan tantangan radikal bagi setiap pelayan Kristus untuk memiliki motivasi yang murni dalam melayani, serta terarah hanya kepada Tuhan, bukan untuk mendapatkan pengakuan atau pujian manusia.

Kesombongan dalam pelayanan sering menyusup dan menyamar dalam bentuk dedikasi, kesempurnaan atau bahkan sebagai kesalehan. Kita dalam pelayanan merasa tersinggung jika tidak diakui, kecewa jika tidak dipuji atau jengkel ketika ide kita tidak diterima. Semua itu adalah tanda-tanda kesombongan telah menginfeksi motivasi pelayanan kita.

Saya sependapat dengan sebuah ungkapan berikut: Di mana ada kesombongan, di sana tidak ada tempat bagi anugerah Allah. Kesombongan tidak hanya menodai pelayanan kita, tetapi juga menghalangi anugerah Allah dalam hidup. Kesombongan menjadi penyakit spiritual yang sangat berbahaya karena mengalihkan dan menggeser Tuhan dari pusat pelayanan dan menempatkan diri kita sendiri di sana. Ini adalah sebuah bentuk penyembahan berhala yang halus, tetapi sesungguhnya mematikan.

Sejatinya, pelayanan yang tulus bukan sekadar tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang mengapa kita melakukannya. Ketika kita bekerja “seperti untuk Tuhan”, prioritas kita bergeser secara fundamental. Kita mulai mencari keunggulan bukan untuk mendapatkan pujian, tetapi karena Allah layak menerima yang terbaik. Kita melayani orang yang terpinggirkan bukan untuk difoto dan dipublikasikan, tetapi karena mereka adalah gambar Allah. Kita terlibat dalam tugas-tugas sederhana yang tidak dilihat dengan kesetiaan yang sama seperti saat kita melakukan tugas-tugas besar yang terlihat karena mata Tuhan selalu melihat.

Biarlah Firman hari ini menghantar kita untuk memeriksa hati kita di dalam melayani Tuhan. Mari kita menyerahkan kembali motivasi kita di kaki salib Nya, tempat kesombongan tidak dapat bertahan dan kerendahan hati dimuliakan. Berkomitmenlah untuk melayani dengan segenap hati, bukan untuk mendapatkan tepuk tangan manusia, tetapi untuk mendengar perkataan Tuhan kepada kita, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Mat. 25:23).


Refleksi diri:

  • Dalam area pelayanan apa Anda paling mudah tergoda untuk mencari pengakuan dan pujian manusia?
  • Bagaimana Anda dapat memastikan bahwa motivasi Anda dalam melayani Tuhan tetap murni, bahkan ketika tidak ada orang yang melihat atau mengakui usaha Anda?