Kesempatan Bertobat Adalah Anugerah
2 Tawarikh 18:28-19:3
Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakukannya supaya ia hidup.
- Yehezkiel 33:11a
Membaca bagian ini, seolah kita sedang menonton film action, bukan? Bayangkan bagaimana Yosafat menjadi sasaran tembak seluruh pasukan Aram, sementara Ahab yang pengecut memilih untuk main aman dengan menyamar. Menurut logika manusia, Yosafat seharusnya mati ketika ia dikepung. Namun, rencana Tuhan tidak pernah gagal. Ia menyelamatkan Yosafat, kemudian memakai sebuah panah dari prajurit tidak dikenal untuk membunuh Ahab.
Yosafat telah berbuat dosa dengan bergaul dengan raja Ahab yang jahat dan tidak mendengarkan perkataan Mikha. Jadi, mengapa Tuhan tetap menolong Yosafat? Karena Tuhan tidak menghendaki kematian orang berdosa, melainkan supaya ia bertobat. Itulah sebabnya sesampainya Yosafat di Yehuda Selatan dengan selamat, Nabi Yehu diutus Tuhan untuk memberikan teguran keras baginya. Tuhan tidak melupakan segala ketaatan Yosafat.
Banyak orang mengatakan bahwa Allah di Perjanjian Lama penuh murka, sementara Allah di Perjanjian Baru penuh kasih. Orang yang berpikir demikian mungkin tidak pernah membaca Perjanjian Lama secara menyeluruh. Tuhan kita adalah Allah yang sama dulu, sekarang, dan selama-lamanya. Kasih setia dan anugerahnya tidak berubah. Di bagian ini kita melihat bagaimana Tuhan menyelamatkan Yosafat untuk memberinya kesempatan berbalik dari kesalahannya. Hal yang sama juga terjadi dalam Perjanjian Baru ketika Tuhan Yesus menyerukan panggilan untuk bertobat. Dia memang menghendaki orang berdosa diselamatkan, tetapi bukan berarti orang itu bisa berbuat seenaknya sesudah menerima anugerah. Dia juga menghendaki pertobatan sejati orang tersebut untuk dan perubahan tingkah laku.
“Tapi, aku kan sudah diselamatkan? Tidak mungkin aku mati dalam dosa-dosaku dan kehilangan keselamatan.” Memang benar. Tapi ingat, kematian tidak hanya terbatas kematian fisik maupun kematian kekal. Kita bisa mengalami kematian sosial, misalnya ketika kita akhirnya dijauhi karena tetap berkubang dalam dosa. Kita bisa mengalami kematian hati nurani, dimana hati kita tidak lagi peka dengan dosa dan menolak mendengarkan Roh Kudus. Semua ini juga adalah konsekuensi dosa yang mengerikan.
Kalau sampai hari ini kita masih hidup dalam kubangan dosa, segeralah bertobat. Kesempatan ini pun adalah anugerah Tuhan.
Refleksi Diri:
- Bagaimana kondisi kerohanian Anda saat ini? Apakah Anda masih berkubang dalam dosa-dosa favorit tertentu?
- Maukah Anda bertobat dari dosa-dosa tersebut dan bertekad untuk tidak lagi melakukannya?
