Bagikan artikel ini :

Kerajaan Yang Berbeda

Yohanes 18:28-38

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”
- Yohanes 18:36

Kita hidup di dunia yang penuh persaingan. Orang berlomba mencari pengaruh, kekuasaan, dan pengakuan sehingga tidak heran sempat populer istilah FOMO (Fear of Missing Out, artinya takut ketinggalan) di kalangan masyarakat modern hari ini. Namun, menarik kita perhatikan bagaimana Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan Pilatus, yaitu apakah diri-Nya seorang raja? Yesus menjawab dengan sebuah pernyataan yang mengejutkan, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.”

Pernyataan Yesus ini bukan sekadar penolakan terhadap kekuasaan politik, tetapi sebuah pernyataan teologis yang dalam bahwa Kerajaan Allah memiliki sifat, cara kerja, dan nilai-nilai yang sangat berbeda dari kerajaan dunia dan segala pengejarannya.

Dalam teks asli, kata “kerajaan” (basileia) tidak hanya menunjuk pada wilayah kekuasaan, tetapi juga mencakup gaya pemerintahan dan nilai yang menguasai hati rakyatnya. Jawaban Yesus terhadap Pilatus seakan sedang berkata, “Aku memang Raja, tapi Aku tidak bermain dengan sistem dunia. Kerajaan-Ku tidak dibangun oleh kekerasan, tetapi oleh kebenaran dan kasih.” Yesus tidak datang untuk membentuk pasukan atau mendirikan struktur politik. Dia datang untuk menaklukkan hati manusia dan memulihkan relasi antara ciptaan dengan Sang Pencipta.

Kerajaan-Nya tidak dibuktikan dengan mahkota emas, tetapi dengan mahkota duri. Kekuasaan-Nya tidak terlihat dalam takhta duniawi, tetapi dalam kerendahan hati dan salib. Di dalam Kerajaan-Nya, yang terbesar adalah yang melayani; yang miskin di hadapan Allah justru disebut berbahagia; dan yang diabaikan dunia justru dimuliakan oleh Tuhan. Kita yang mengikut Kristus dipanggil untuk hidup sebagai warga kerajaan yang berbeda. Meskipun kaki masih menapak di dunia, hati kita seharusnya tertambat pada nilai-nilai Kerajaan Kristus, yakni kasih yang tidak menuntut balasan, kebenaran yang tidak dikompromikan, dan pengampunan yang tidak bersyarat.

Dunia mungkin tidak mengerti, bahkan menolak nilai-nilai Kerajaan Kristus. Sadarilah bahwa justru dalam situasi demikianlah Kerajaan Kristus hadir di dunia, diam-diam tapi nyata, sederhana tapi kekal adanya. Sekarang, giliran kita membuktikan diri sebagai warga Kerajaan Kristus.


Refleksi Diri:

  • Apakah cara hidup Anda hari ini mencerminkan nilai kerajaan dunia atau Kerajaan Kristus?
  • Dalam relasi, pelayanan, dan pilihan hidup sehari-hari, di mana Anda bisa lebih setia menyatakan bahwa Anda hidup bagi Kerajaan yang berbeda?