Kebenaran yang Terlupakan
Yohanes 17:13-19
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.
- Yohanes 17:17
Pernahkah Anda kehilangan suatu barang yang sangat penting, tetapi baru sadar setelah sekian lama? Barang itu entah dompet, file kerjaan atau mungkin ... kunci rumah. Eh, rupanya setelah dicari-cari, ternyata kuncinya selama ini berada di dalam kantung saku celana Anda. Saat kehilangan sesuatu, biasanya kita menjadi panik, bingung, dan tersadar bahwa barang kecil yang terlupakan tersebut ternyata punya dampak besar.
Begitu pula dengan kebenaran. Dalam dunia modern yang serba cepat ini, kita bisa dengan mudahnya teralihkan perhatiannya, entah oleh berita, opini masyarakat, tren dunia atau komentar di sosial media, sehingga tanpa sadar kita lupa pada satu hal yang paling esensial dalam hidup orang percaya, yakni kebenaran firman Tuhan. Hilang dan pudarnya kebenaran dalam hidup bukan perihal kecil. Ini merupakan masalah terbesar dalam kehidupan, khususnya bagi orang percaya. Dalam Yohanes 17, kita melihat Yesus tidak meminta hal rumit kepada para murid-Nya. Ia hanya berkata, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Di tengah dunia yang kabur antara yang benar dan salah, Tuhan ingin kita kembali berpijak pada sesuatu yang pasti, yakni firman-Nya.
Berpijak pada firman Tuhan bukan sekadar membaca, tetapi membiarkan firman itu menyaring hati, membentuk cara berpikir, dan mengarahkan langkah hidup kita. Kebenaran bukan tren yang datang dan pergi. Kebenaran bukan bergantung pada mayoritas. Kebenaran bukan soal perasaan. Kebenaran adalah pribadi dan perkataan Tuhan sendiri, yang kekal dan tak berubah. Sayangnya, karena terlalu sering mendengar firman Tuhan, kita merasa sudah tahu, padahal bisa jadi kita hanya akrab di telinga, tetapi asing di hati.
Mari berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita masih hidup dalam terang kebenaran firman Tuhan atau sudah mulai mengikuti arus dunia tanpa sadar? Apakah firman Tuhan masih menjadi cermin hati kita atau hanya jadi hiasan di rak buku? Kebenaran bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi. Dunia butuh orang-orang yang bukan hanya tahu firman, tetapi yang menjadi cerminan firman. Tanpa firman Tuhan, kita akan tenggelam dan tersesat, sebagaimana para reformator selalu katakan, “Firman adalah peta dan cermin, dimana kita bisa mengenal diri kita dan tahu tujuan hidup kita yang sejati.”
Refleksi Diri:
- Apakah firman Tuhan masih menjadi bagian utama dalam hidup Anda? Apa dampak firman Tuhan bagi Anda pribadi?
- Apakah Anda sedang berjalan bersama kebenaran? Apakah Anda secara rutin membaca, merenungkan, menghidupi dan membagikan kebenaran tersebut?
