Bagikan artikel ini :

Karunia Bukan Kompetisi

Roma 12:6-8

Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita:
- Roma 12:6a

Dunia mengajarkan kita untuk bersaing atau berkompetisi agar dianggap berarti. Yang patut diwaspadai, semangat kompetisi ini bisa menyelinap masuk ke dalam kehidupan rohani, bahkan ke dalam dunia pelayanan. Kita tanpa sadar membandingkan diri dengan orang lain terutama dalam hal karunia rohani. Kita mulai bertanya-tanya, “Mengapa dia lebih menonjol dalam pelayanannya?” atau “Kenapa saya tidak diberi karunia ini dan itu?”

Rasul Paulus di Roma 12:6-8 mengingatkan kita bahwa setiap karunia rohani diberikan “menurut kasih karunia”, bukan berdasarkan kehebatan atau usaha pribadi. Karunia rohani itu dianugerahkan, bukan diperebutkan. Yang lebih penting lagi, karunia rohani diberikan Tuhan bukan untuk membangun ego, tapi untuk membangun tubuh Kristus.

Paulus menyampaikan bahwa di dalam keberagaman karunia rohani, ada kesatuan tujuan, yaitu untuk melayani. Apa pun bentuk karunia rohani yang diberikan kepada kita, entah mengajar, memberi, memimpin atau menasihati, semuanya penting di hadapan Tuhan. Tidak ada karunia yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Sayangnya, iri hati bisa timbul ketika kita memandang karunia orang lain sebagai ancaman, bukannya sebagai pelengkap dalam melayani Tuhan. Kita mulai meragukan nilai diri kita, seolah-olah Tuhan kurang adil dalam membagi peran. Tidak ada satu talenta pun yang kita miliki yang bukan pemberian dari Tuhan. Iri hati terhadap karunia orang lain adalah ketidakpercayaan terhadap hikmat Tuhan dalam membagikan pemberian-Nya.

Sikap seperti ini mencerminkan bahwa kita belum sungguh mengerti siapa diri kita di dalam Kristus. Nilai kita tidak ditentukan oleh posisi atau jenis pelayanan, melainkan oleh kasih karunia yang menyelamatkan kita dan menyatukan kita dalam tubuh-Nya. Ketika kita berhenti melihat karunia sebagai ajang pembuktian dan mulai melihatnya sebagai panggilan untuk melayani maka iri hati akan tergantikan dengan ucapan syukur dan sukacita dalam kerja sama.

Mari ubah pola pikir kita, dari membandingkan menjadi menghargai setiap karunia rohani yang Tuhan berikan. Alih-alih bersaing, lebih baik kita saling bekerja sama dalam melayani. Bersyukurlah atas karunia rohani yang Tuhan percayakan kepada Anda dan berdoalah agar Tuhan memakai karunia tersebut bukan untuk kemuliaan diri, melainkan untuk membangun tubuh Kristus.


Refleksi Diri:

  • Apa karunia rohani yang Anda miliki? Sudahkah Anda menggunakannya untuk membangun sesama?
  • Bagaimana Anda bisa menjadi bagian dari kolaborasi, bukan kompetisi, dalam tubuh Kristus?